Cerita Tentang Papa (6) : You Are Nothing

CERMIN (Cerita Mini)
Cerita ini semata-mata hanya fiksi belaka dan diceritakan bersambung.

Untuk lebih lengkapnya silahkan baca awal cerita dari :
Cermin Tentang Papa (1) : PENGECUT

(6)

Setelah gerah yang membuat semua paruh burung-burung koleksi Wak Lagang –tetangga sebelah– merengut, sore ini semuanya terasa serba berubah. Angin semakin kencang, langit menggelap, dan sesekali petir memanggil hujan yang sudah lama sombong tak hadir ke bumi.

Aku dengan kondisi badanku yang mulai segar, langsung menuju sekumpulan suara yang sungguh aku rindu. Balutan perban di tangan, sudah diganti dengan tempelan kotak kain perban kecil. Segerombolan celotehan dari burung Tekukur, Murai Hijau, dan –ini yang paling kusuka– Jalak Suren, koleksi Wak Lagang, yang kuheran selalu ada sejak aku kecil, selalu sangat menarik perhatianku sejak dulu. “Hmmm…. Masak sih nggak ada yang mati?”, pikirku.

Ah… apa peduliku, yang terpenting Jalak Suren yang paling aku suka tetap ada. Jenis burung pengicau yang umumnya berukuran sekitar 20-25 cm senantiasa tampak gagah, dengan paruh yang kuat, tajam dan lurus. Kakinya panjang dan sebanding dengan tubuhnya. Suaranya paling ribut, berceloteh keras, kadang-kadang meniru suara burung lainnya. Ah… kegagahan yang konyol menurutkan. Enggak punya pendirian. Tapi kusuka.

Ah… kegagahan yang konyol menurutkan. Enggak punya pendirian. Tapi kusuka

“Eh Dika, sudah lama enggak kelihatan. Kemana aja?” Tiba-tiba suara yang kuyakin suara Wak Lagang, seperti menepuk punggungku. Kubalikkan badanku. Kulihat matanya yang penuh selidik keseluruh tubuhku.

“Eh, Wak…. iya nih…. Saya di Jakarta sekarang. Saya pesan kopi pahitnya satu ya, Wak.” Kubalas dengan agak canggung, sambil langsung kutarik kursi kayu di warungnya, dan duduk langsung menghadap jalan. Sedikit malu dengan badanku yang ceking dan tampak penyakitan ini. Tak lagi memperdulikan celotehan Jalak Suren yang sibuk menirukan kicauan temannya di kandang yang lain.

Entah kenapa, tiba-tiba aku pesan satu cangkir kopi pahit di warung kopi ini. Biasanya, meskipun aku tahu tempat ini adalah tempat orang menikmati berbagai macam jenis kopi, tapi aku lebih memilih menu teh yang hanya tersedia beberapa menu saja. Teh ini pun mungkin disiapkan oleh si pemilik warungnya hanya untuk beberapa pelanggannya yang tidak terlalu menyukai kopi tapi ingin menemani temannya yang ingin meminum kopi di tempat ini.

Apa karena aku sedang ingin melanjutkan tulisanku tentang Papa di tempat ini? Tapi apa hubungannya? Apa supaya ada alasan untuk berlama-lama? Ah… aku selalu berusaha mencari alasan yang tepat. Sebuah sifat turunan, sifat papa yang aku ingat, dan menurun ke aku.

Berusaha untuk mencari alasan yang tepat untuk melakukan sesuatu, sehingga saat ada pertanyaan yang timbul dia sudah siap dengan jawabannya. Papa memang “sesuatu” dalam hidupku. Penuh dengan ide dan cerdik sekali.

Papa memang “sesuatu” dalam hidupku. Penuh dengan ide dan cerdik sekali.

Salah satu akal dan kecerdikan atau siasat Papa yang aku kenang sampai saat ini, adalah strategi dia dalam mendapati Mama. Seru, unik dan lucu.

Mama bisa dibilang salah satu bintang di salah kampus terkenal di Jakarta di zamannya. untuk menggambarkan seberapa bintangnya Mama, mungkin cukup dengan mengatakan, kalau Mama adalah Ratu Kebaya di kampus itu. Zaman dulu Ratu Kebaya adalah salah satu gelar bergengsi untuk kontes putri-putrian. Saat itu Mama tinggal bersama Pamannya yang pada waktu itu menjabat sebagai kepala Badan Intelejen di Indonesia.

Sedangkan Papa, hanyalah salah seorang mahasiswa perantauan dari Medan yang hanya kuliah di kampus yang biasa-biasa saja di Jakarta. Enggak ada yang spesial. Bahkan Papa punya cacat bibir sumbing yang meskipun sudah di operasi tapi masih terlihat bekasnya. Papapun hanya kost di salah satu gang sempit yang berada di dekat kampusnya.

Dilihat dari kondisi dan status sosial rasanya mustahil kalau pada akhirnya Papa bisa ketemu Mama, bahkan sampai menikahinya. Hal ini dulu pernah kutanya ke Mama, saat kami sedang bercanda bersama adik-adiknya. Nah, dari sinilah aku tahu awal mula kisah percintaan mereka, sekaligus mengetahui, betapa cerdik dan tingginya strategi Papa.

Ternyata, pada awalnya Mama berpacaran dengan adikknya Papa yang saat itu juga sedang kuliah di Jakarta. Adik papa yang biasa kami panggil Uda ini adalah salah satu pemain bulutangkis yang meskipun masih tingkat provinsi akan tetapi cukup sering dipanggil untuk bertanding dalam rangka latihan untuk para pemain nasional saat itu. Kalau kata Mama, Uda juga dulu sering dipanggil untuk dijadikan lawan tanding dalam rangka latihannya Rudi Hartono, sang Maestro bulutangkis di Indonesia.

Saking sibuknya jadi sparring partner, akhirnya Uda sering minta tolong ke Papa untuk menjemput Mama pulang dari kampusnya. Nah, di sinilah Papa mulai memainkan jurus mautnya. Papa jadi sering menjemput Mama. Kalau Mama tanya kemana Uda, selalu Papa bilang, kalau Uda masih latihan. Sementara itu, Papa juga bilang ke Uda untuk santai saja latihan, karena dia bisa bantu untuk menjemput Mama. Yah… ternyata kepercayaan uda itu salah. Papa menikungnya. Arghhh… ternyata kisah salip-menyalip memang sudah terjadi sejak zaman dahulu.

Papa menikungnya. Arghhh… ternyata kisah salip-menyalip memang sudah terjadi sejak zaman dahulu.

Singkat cerita, pada akhirnya Papa jadi berpacaran sama Mama. Entah bagaimana perasaan Uda pada saat itu, entahlah. Aku juga enggak mungkin tanya itu ke Uda dan Mama. Cukup tahu sajalah. Lagi pula ada cerita yang lebih lucu dan agak norak sih kalau kupikir-pikir… hahahaha….

Ternyata hubungan Mama dengan Papa sama sekali tidak disetujui oleh Aki, alias pamannya Mama. Entah kenapa, Papa bahkan sampai diacungin pistol karena dianggap enggak kapok-kapok waktu diusir pulang saat mengantar atau menjemput Mama. Pada akhirnya, Papa pun mengganti strateginya. Mungkin takut kalau Aki pada akhirnya benar-benar nekat menembaknya.

Karena pada saat itu enggak ada Handphone dan telepon ke rumah tidak mungkin, akhirnya Papa melakukan sesuatu yang… ahhh… hanya bisa dibayangkan di film-film saja adegannya. Saat itu kamar Mama ada di lantai dua dan kebetulan sisi kamar yang ada jendelanya menghadap ke arah gang samping rumah. Nah, melalui jendela inilah Papa menjalankan triknya.

Untuk membuat janji temu atau untuk mengabarkan berita papa selalu bersiul di bawah jendela Mama, dalam siulan ketiga, Mama harus sudah membuka jendela, kalau dalam siulan ketiga jendela tidak terbuka, berarti Mama tidak ada di kamar atau sedang tidur. Pada saat mendengar siulan ke tiga inilah, Mama bergegas menurunkan sarang burung melalu jendela kamarnya. Kebayang enggak sih gimana konyolnya…? Hanya karena takut sedikit berteriak, Papa dan Mama memilih media sarang burung yang dikerek ke bawah untuk saling bercerita. Papa menuliskan apa yang Papa mau atau pesan tertentu — misalnya tempat ketemuan dan jamnya — mamapun tinggal menganggukkan atau menggelengkan kepala tanda setuju atau tidak.

Ahh… sebuah cerita romantis yang sangat sulit untuk dilupakan. Bagaimana mungkin mereka sampai bisa saling menyakiti pada akhirnya.

Ahh… sebuah cerita romantis yang sangat sulit untuk dilupakan. Bagaimana mungkin mereka sampai bisa saling menyakiti pada akhirnya. Itulah yang membuatku enggak habis pikir. Papa yang hebat, kenapa bisa menjadi tidak bertanggung jawab seperti itu. Kabur karena masalah judi. Kira-kira alasan pembenaran apa sampai dia melakukan itu, aku pun enggak pernah tanya. Terlalu gengsi bagiku untuk menanyakan hal itu, terlebih lagi aku sangat membencinya dulu.

Papa yang banyak akal, seketika menjadi Papa yang bodoh jika aku mengingat kondisi kami, saat harus bergegas pindah ke rumah Opung.

“Papa, bagaimana mungkin kau tidak tahu, kalau Mama sangat sedih saat itu? Harus kembali ke rumah Opung, karena ditinggal kabur oleh suaminya. Karena sudah tidak punya uang dan apa-apalagi di rumahnya sementara itu ada kami tiga orang anakmu yang harus Mama tanggung sendiri. Bagaimana mungkin kau jadi tiba-tiba bodoh dan tidak bertanggung jawab, seolah tidak bisa lagi melakukan apa-apa? Papa, you are nothing for me,” kataku lirih.

Tanpa terasa, kopi di hadapanku habis dan tak satupun kata yang kuniatkan untuk kutuliskan tentang dia.

*****

Bersambung ke bagian (7)

Untuk lebih lengkapnya silahkan baca awal cerita dari :
Cermin Tentang Papa (1) : PENGECUT

 

 

Eka Siregar

Halo.. panggil Bang Eka aja ya.. pada dasarnya saya senang jalan-jalan, makan dan mengerjakan atau mencoba hal-hal baru. Nah, di sini saya coba bagi ke teman-teman apa-apa yang telah saya lihat, dengar, dan rasakan sendiri. Silahkan dibaca-baca ya..

33 Comments

    1. Manusia bisa berubah. Kadang jauh menyimpang dari sifat yang terdahulu.
      Cerita romantis masa pacaran berganti dengan kepedihan hidup berumah tangga. Anak anak pun akhirnya jadi korban.

  1. OMG romantis ala mereka komunikasi pakai kandang burung, tak terlupakan banget ini mah pasti.
    Ini nggak dibuat buku aja om? gemes aku tuh baca per part gini.

  2. Sebagai pembaca yang sok tahu, saya bisa mengerti mengapa Dika tak melanjutkan tulisannya saat ini, karena sang papa nothing sekaligus everything …. Sesuatu banget bang eka tulisan ini

  3. Ratu Kebaya di google sekarang keluarnya toko-toko kebaya, butik kebaya, dan tukang jahit kebaya 🙂 Mungkin yang dulu Ratu Kebaya jadinya “Abang None”.

  4. Akhirnya release juga neh cerbungnnya Papa yang sesuatu ya Bang. Cerpen yang romantis kalau menurut aku. Semua kisah ditulis dengan tanpa beban, mengalir aja sesuai apa yang dipikirkan oleh penulisnya. Dan tentunya pesan yang ingin disampaikan meski masih ragu tapi jadi menunggu, endingnya mau kek gimana seh.. nice Bang.

  5. Susahnya pacaran dulu. Sekarang mah ga ada backstreet-backstreet. Ga bisa ketemuan, bisa video call. Setiap hari bisa mantau kegiatan doi dari medsos. Ga kebayang saya jadi mamanya Dika, gimana ketemu pamannya Dika ya.

  6. Kekecewaan terbesar itu memang sering kali dilakukan oleh orang yang kita percaya dan kita sayang ya

    Keren ceritanya Om. Apalagi pas cerita tikung menikung hahahaha

    1. Ditikung teman sendiri… sudah biasa…
      Ditikung kakak sendiri… luar biasa….
      Gemes banget sama cerita konyol papa dulu sewaktu masih mengencani mama, pakai media sarang burung segala. Memang ada-ada saja ide orang yg sedang jatuh cinta itu.

  7. Selalu suka baca setiap part nya. Di part ini ada beberapa hal yang unik yang dilakukan orang jaman dulu untuk komunikasi, papa cerdik banget sumpah sampe ketawa ketawa sendiri. Beda banget sama jaman now yang serba praktis. Salah satu moment yang irreplacable menurut aku. Tapi karena judi jadi berantakan, okeee can’t wait to next part.

  8. Terkadang orang yang paling kita benci, justru orang yang paling dekat dengan kita. Benci kali aku baca cerita Papa ini, karena semakin terus aku membacanya semakin mengingatkanku dengan seseorang yang ku benci, namun begitu dekat 😢

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close
Back to top button
Close