Home / TRAVELING / JAVA ISLAND / Kawah Ijen Banyuwangi, Pesona dan Jalurnya, Menggoda si Gendut

Kawah Ijen Banyuwangi, Pesona dan Jalurnya, Menggoda si Gendut

Bagi para pencinta alam, Kawah Ijen Banyuwangi adalah nama tempat yang tak asing lagi di telinga mereka. Tempat yang luar biasa indah ini sudah jadi tujuan utama bagi mereka yang ingin kembali untuk melepas rindu. Rindu untuk kembali, setelah beberapa kali mengunjunginya. Kenapa? Tentu saja hal ini yang akan banyak saya ceritakan di sini.

Kawah Ijen Banyuwangi adalah salah satu daerah tujuan wisata yang masuk dalam daftar yang wajib saya kunjungi di tahun 2017 kemarin. Kawah di Gunung Ijen ini adalah salah satu daerah tujuan yang akan saya jadikan tempat untuk menguji fisik saya yang over extra large (baca : Gendut) ini.

Berat 130 kg, benar-benar berat yang sangat menantang untuk memulai beberapa pendakian yang akan saya daki setelah saya bergabung di komunitas Backpacker Jakarta.

Walhasil… setelah membaca dan melihat banyak di Youtube —tentang orang-orang yang baru pertama kali ke Kawah Ijen Banyuwangi– akhirnya saya pun memantapkan diri untuk mendaftar dan berangkat.

Berkenalan dengan Ijen

Kawah Ijen banyuwangi
Kawah Ijen Banyuwangi, Pic. by Edi M Yamin

Gunung Ijen Banyuwangi

Gunung Ijen adalah salah satu gunung berapi aktif dengan ketinggian 2.443 mdpl yang terdapat di Jawa Timur dan terletak di perbatasan antara Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso serta berdampingan dengan Gunung Merapi. Hal yang paling menarik dari gunung yang terakhir kali meletus tahun 1999 ini adalah kawahnya. Selain masih dijadikan sebagai tambang belerang rakyat, kawah ini memiliki beberapa catatan yang menakjubkan.

Untuk sampai ke gunung ini bisa dengan beberapa cara dan yang paling sering digunakan oleh para pengunjungnya adalah berangkat melalui Banyuwangi dan Bondowoso.

Fakta luar biasa Kawah Ijen Banyuwangi

Sebagai tujuan utama dari pendakian, Kawah Ijen Banyuwangi ini memiliki beberapa fakta luar biasa yang layak kita banggakan dan membuatnya sangat pantas untuk kita kunjungi :

  1. Kawah Ijen Banyuwangi adalah sebuah danau kawah yang terletak 2.443 m di atas permukaan laun dengan kedalaman 200 meter.
  2. Kawah Ijen Banyuwangi adalah sebuah danau kawah bersifat sangat asam.
  3. Kawah Ijen Banyuwangi adalah danau air sangat asam terbesar di dunia, dengan luas 5.466 hektar.
  4. Kawah Ijen Banyuwangi adalah salah satu dari 2 tempat saja di dunia yang mengeluarkan Blue Fire atau api biru setelah di Islandia. Fenomena ini bisa kita lihat pada dini hari sekitar jam 02.00 – 04.00 WIB.
  5. Melalui puncak Kawah Ijen Banyuwangi ini kita bisa melihat pemandangan indah yang sangat kompleks karena kita bisa melihat banyak sekali puncak gunung terkenal di Jawa Timur, seperti Gunung Merapi, Gunung Raung, Gunung Suket, Gunung Rante, dan lain-lain.

Baca juga :
Gunung Galunggung, Keindahan dari Bencana Masa Lalu

Yang harus dipersiapkan “orang gendut” kalau ke Kawah Ijen Banyuwangi

Nah.. dengan segala pesona seperti itu, siapa sih yang mau menunda-nunda untuk berangkat? Uang pas ada, dan dan waktu pun banyak… Ya kali enggak kuy… Walhasil demi impian tersebut, inilah berbagai persiapan yang saya (si gendut) lakukan.

1. Persiapan Fisik

Praktis saya hanya punya waktu sekitar 3 bulan untuk mempersiapkan keberangkatan di bulan April 2017 sejak tanggal pendaftaran. Untuk menurunkan berat badan agar ideal seperti layaknya para pendaki gunung yang ramping-ramping itu, sudah pasti tidak mungkin. Dengan tinggi 184 cm dan berat 130 kg, saya harus turunkan berat badan sekitar 45 kg dalam 3 bulan. Nahhhh… bukankah ini suatu hil yang mustahal.. hahahaha… So… hal yang paling possible untuk saya lakukan adalah memperkuat fisik saya.

Selama 3 bulan persiapan, saya melakukan banyak perubahan ekstrim dalam aktifitas fisik keseharian saya. Sebelumnya, meski di apartemen tersedia fasilitas fitness dan kolam renang, saya tidak pernah berolah raga sama sekali. Kemana-mana selalu menggunakan mobil pribadi, sehingga praktis dalam 1 hari saya duduk sekitar 4-5 jam di mobil, di tengah kemacetan Jakarta.

Nah, apa saja yang saya lakukan dalam rangka memperkuat otot kaki, punggung dan pernafasannya saya? Ini dia :

a. Naik turun apartemen dengan tangga darurat.

Secapek apapun dan seburu-burunya saya, saya mewajibkan diri untuk naik turun 18 tingkat di apartemen saya dengan menggunakan tangga melalui tangga darurat. Pada awalnya, capekknya luar biasa. Namun lama-lama terbiasa juga, bahkan sampai dengan sekarang kalau lagi tidak terburu-buru, saya masih menggunaan tangga darurat.

b. Tinggalkan mobil pribadi.

Dulu-dulu saya selalu menghindari yang namanya Trans Jakarta. Melirik tangganya yang tinggi dan mengular itu rasanya, “sudah gimanaaa .. gitu.” Selalu ngos-ngosan kalau dicoba. Nah… demi pergi ke Kawah Ijen Banyuwangi, saya tantang diri saya untuk melakukan hal tersebut. Dampak aktifitas baru Ini lumayan positif banget ternyata. Selain kemana-mana jadi cepat, saya pun merasakan perubahan kebugaran fisik yang sangat significant.

c. Perbanyak trip air terjun, camping dan laut.

Beruntung saya bergabung di komunitas jalan-jalan yang sangat low cost, pada akhirnya saya bisa mengikuti banyak “kegiatan jalan-jalan” hampir di setiap hari Sabtu dan Minggu, menjelang keberangkatan saya ke Kawah Ijen Banyuwangi. Saya selalu pilih trip ke air terjun dan camping yang ada sedikit trekking-nya untuk melatih kaki, atau sesekali mengambil trip laut untuk berenang melatih fisik dan meningkatkan kebugaran tapi sambil having fun bersama teman-teman.

2. Persiapan non Fisik

Nah, kalau yang namanya persiapan non fisik di sini, jangan terlalu diartikan sebagai persiapan psikis ya. Persiapan ini lebih kepada mempersiapkan benda apa saja yang harus saya persiapkan agar perjalanan saya nyaman dan tidak merepotkan orang lain. Untuk itu, inilah yang saya (si gendut) persiapkan :

a. Cek cuaca dan suhu.

Di zaman canggih ini, kita bisa mengetahui perkiraan cuaca dan suhu di suatu tempat yang akan kita kunjungi beberapa bulan ke depan. Untuk ini saya selalu menggunakan situs https://www.accuweather.com dan http://www.bmkg.go.id. Bahkan kalau hanya sekedar untuk tahu kondisi cuaca hari ini, cukup ketik “cek cuaca”  atau “cek cuaca + nama tempat” di mesin google, maka akan langsung keluar kondisi cuaca di sekitar kita atau tempat yang kita tulis. Penting sekali mengetahui kondisi cuaca di tempat yang akan kita tuju, untuk benar-benar mempersiapkan apa-apa yang harus kita bawa nanti.

b. Siapkan pakaian “pelawan” hawa dingin.

Suhu malam hari, waktu dimana kami akan memulai pendakian adalah sekitar 5-10°C, wuih.. cukup dingin bukan? Hampir sama dengan es batu yang suhunya di bawah 0°C. Nah untuk itu, perlulah disiapkan pakaian dan perlengkapannya yang bisa yang bisa digunakan untuk melawan hawa dingin tersebut. Mulai dari jaket tebal yang juga anti basah, penutup kuping, sarung tangan, dan syal.

c. Siapkan perlengkapan anti pegel dan sakit lutut dan tumit.

Mengingat akan bobot tubuh dan usia, hal ini adalah salah satu hal penting yang harus saya persiapkan. Biar jalan nyaman di tanjakan dan turunan, saya beli 2 buah Trackpole. Saya juga siapkan sepatu yang nyaman untuk jalanan menurun yang penuh dengan pasir dan kerikil. Pasir dan kerikil hampir “menghiasi” dua pertiga dari jalur trekking menuju Kawah Ijen Banyuwangi ini.
Untuk mencegah cedera lutut dan tumit saya juga membeli pelindung lutut/tumit anti cedera (dekker).

Nah… dengan segala persiapan tersebut, saat itu saya berharap, agar perjalanan saya akan berjalan lancar dan aman.

Perjalanan ke Kawah Ijen Banyuwangi

Menuju Surabaya, Keretaku Tak Seperti Dulu

Akhirnya tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Tanggal 7 April 2017, sekitar pukul 09.00 kami semua berkumpul di Stasiun Kereta Api Pasar Senen, bersama rombongan, kami akan naik kereta api ekonomi Gaya Baru Malam Selatan jam 10.15 dengan tujuan Stasiun Gubeng Surabaya.

kawah ijen banyuwangi
Kereta Api yang nyaman tapi sepi

Perjalanan dengan menggunakan kereta api ekonomi ini pun bak mengenang masa-masa kuliah 25 tahun yang lalu. Sudah terbayang bakal banyak penjual makanan sepanjang jalan, pecel, nasi kucing dan lain-lain. Terbayang semua keseruan keramaian yang bakal terjadi di sepanjang jalan.

Tapi ternyata, semua hayalan tersebut buyar. Kereta api ekonomi sekarang ternyata tidak seperti dulu. Dengan alasannya supaya lebih rapih dan demi kenyamanan penumpang, sudah enggak ada lagi kemeriahan pedagang di setiap pemberhentian stasiun. Bahkan… untuk sekeder bermain kartu dengan teman-teman seperjalanan pun sudah enggak bisa lagi. Duh… hilang sudah keseruan yang dulu sering saya temukan dan lakukan di sepanjang jalan dengan kereta api ekonomi ini.

Tiba di Surabaya dan Jalan-Jalan Dulu

Perjalanan ke Kawan Ijen Banyuwangi ini adalah salah satu dari sekian destinasi yang akan kami datangi di Jawa Timur. Jadi, sebelum menuju ke Kawah Ijen –di dalam jadwal perjalanan– kami harus mengunjungi beberapa tempat terlebih dahulu.

Kawah Ijen Banyuwangi
Bersama Tante Suez, peserta paling “senior” yang memacu semangat saya.

Sekitar jam 02.00 dinihari kami tiba di Stasiun Gubeng Surabaya, 2 buah Elf sudah menunggu dan setelah istirahat sejenak kami pun melanjutkan perjalananan ke Taman Nasional Baluran, Pantai Bama dan Kota Banyuwangi. Sekitar jam 11.00 malam kami pun tiba di Paltuding. Paltuding adalah Pintu Gerbang Utama untuk menuju Cagar Alam Taman Wisata Kawah Ijen Banyuwangi sekaligus merupakan pos PHPA (Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam).

Awal Pendakian

Fasilitas untuk para pendaki dan wisatawan di Paltuding cukup lengkap. Ada banyak warung yang menjual makanan dan berbagai keperluan pendakian. Selain itu tersedia pula beberapa pondok wisata dan area perkemahan. Saat kami kami datang, saya lihat banyak sekali rombongan yang memasang tenda di lokasi perkemahan tersebut.

kawan ijen banyuwangi
Di area parkir Paltuding, sebelum naik ke Kawah Ijen Banyuwangi

Salah satu tujuan utama para pendaki menuju ke Kawah Ijen Banyuwangi ini adalah melihat Blue Fire (api biru) yang muncul di sela-sela bebatuan di kawah Gunung Ijen tersebut. Jarak dari Pos Paltuding ke kawah adalah sekitar 3 km. Hampir sebagian besar dari jalur menuju puncak mempunyai kemiringan sekitar 35 derajat dan yang terberat adalah setengah jalur di awal yang berjarak 1,5 km. Selain tanjakan, tantangan dalam pendakian ini adalah struktur tanahnya yang berpasir dan berkerikil. Hal ini membuat pendakian akan semakin berat, karena harus menahan badan agar tidak merosot ke belakang.

Untuk mendapatkan fenomena Blue Fire, seluruh pendaki sudah harus berangkat naik ke kawah sekitar jam 12 malam, karena perjalanan untuk sampai ke puncak sekitar 2 jam dan waktu terbaik untuk melihat Api Biru tersebut adalah jam 02.00 – 04.00 dinihari. Namun sayangnya, saat kami berkunjung beberapa hari sebelumnya ada penambang belerang yang meninggal karena menghirup bau belerang yang sangat kuat, yang keluar dari letusan kecil yang terjadi. Hal ini mengakibatkan pendakian malam hari ditutup selama beberapa hari sampai kondisi dinyatakan aman dan kami baru diijinkan naik sekitar jam 03.00 dinihari.

kawah ijen banyuwangi
Menunggu yang tak jemu, menjelang diijinkan naik ke Kawah Ijen Banyuwangi

Akhirnya saya bersama rombongan beristirahat di salah satu warung, ngobrol sambil makan jagung dan gorengan hangat. Ada yang seru waktu lagi ngaso di warung. Saya kenalan dengan seorang pendaki dari Italia, dia baru saja melakukan solo trip (pendakian) ke beberapa gunung di Indonesia. Sebelum ke Kawah Ijen Banyuwangi, dia baru saja pulang dari pendakian Rinjani. Sendirian!! Seru banget pasti. Ini racun baru buat saya. Nafsu untuk segera menurunkan berat badanpun meningkat.

Bonus-Bonus Perjalanan

Tepat pukul 03.00 seluruh pendaki sudah berkumpul di depan gerbang jalur pendakian. Seru juga. Mirip sekali dengan pelepasan lomba lari marathon. Semuanya standby  menunggu aba-aba tanda untuk dipersilahkan masuk dan berjalan menuju puncak. Yang paling menarik dan baru pertama kali saya lihat adalah adanya gerobak ojek untuk menuju ke atas. Gerobak ini berbentuk segi 4, dengan 2 roda di kiri kanan. Dari depan gerobak ini ditarik oleh 1 orang dan juga didorong pula oleh satu orang darei belakang. Ukuran gerobaknya pas untuk 1 orang. Beberapa gerobak saya lihat hanya di tarik oleh 1 orang saja. Mungkin karena “penumpangnya” berbadan kurus. Kalau saya yang jadi penumpangnya mungkin harus 3 orang.

Saat akan memulai pendakian ke Kawah Ijen Banyuwangi, tampak di Ojek Gerobak belakang saya.

Entah kenapa saya sangat tidak tertarik dengan Gojek Gerobak yang sempat menawarkan jasanya seharga 150 ribu rupiah pulang pergi. Saya memutuskan untuk bergabung dengan rombongan pertama. Saat itu tim kami dibagi ke dalam tiga rombongan. Perkiraan saya, seandainya pun saya akan keteter dan ketinggalan, saya masih bisa nyangkut di kelompok yang di belakang.

Bonus pertama

Ya, baru sekitar 1 km perjalanan saya mulai mendapatkan bonus pertama. Saya mulai ketinggalan rombongan dan rombongan yang di belakang pun masih jauh. Sementara itu jalur pun mulai sepi, bahkan tidak ada orang sama sekali. Entah kenapa, tidak ada sedikitpun rasa takut yang muncul saat berjalan sendirian di jalur pendakian dengan hutan di sebelah kanan kiri jalur. Sesekali ada satu dua orang pendaki yang menyusul dan akhirnya menghilang dikegelapan. Namun jujur, saat melihat cahaya lampu senter di depan, ada terbersit rasa lega dan senang.

Bonus kedua

Bonus yang paling  menyenangkan mungkin adalah bonus kedua ini, yaitu saat saya tiba di satu-satunya pos sebelum puncak. Pos tersebut adalah Pos Bunder. Posnya memang unik karena berbentuk bunder. Pos Bunder ibarat oase di padang pasir. Ada warung yang menjual makanan dan minuman yang bisa menghangatkan badan. Saya bertemu dengan rombongan pertama di pos ini. Tapi begitu saya sampai, sebagian dari mereka langsung jalan. Mungkin karena mereka sudah terlalu lama istirahat.

Bonus ketiga

Kawah Ijen Banyuwangi
Jalur pendakian ke Kawah Ijen Banyuwangi setelah pos bunder. Pic by Edi M Yamin

Dari Pos Bunder ini jarak ke puncak kurang lebih 1 km lagi. Kali ini saya pun bersama beberapa teman jalan menuju puncak. Berbeda dengan jalur sebelumnya, jalur yang ini lebih landai. Waktu pun sudah menunjukkan pukul 04.15. Pemandangan sekitar yang tadinya gelap gulita, mulai sedikit terang. Matahari mulai bangkit dari peraduan dan mengintip penghuni bumi. Pemandanganpun mulai tidak terkatakan indahnya. Kabut putih tampak bagai permadani beranyamkan kapas menutupi lembah dan jurang di sekitar. Di kejauhan tampak Gunung Raung dan Gunung Merapi berdiri angkuh menjaga terbitnya pagi. Keren banget. Saya yakin… hal-hal inilah yang membuat para pendaki rindu untuk kembali.

kawah ijen banyuwangi
Gunung Raung dari Sisi Ijen saat pendakian ke Kawah Ijen Banyuwangi

Kawah Ijen Banyuwangi

Sungguh tak terkatakan apa yang saya rasakan saat tiba di puncak dan melihat kawahnya yang menawan. Angin dingin yang cukup kencang tak cukup untuk mengganggu keasyikan dan kekhusyukan saya dalam menikmati keindahan alam yang Allah suguhkan di depan mata saya.

Kami memang dilarang turun ke kawah untuk melihat dan berfoto di sana, karena baru saja terjadi musibah beberapa hari lalu. Namun hal ini tak sedikitpun mengurangi rasa syukur dan takjub saya sudah berhasil tiba di Kawah Ijen Banyuwangi dalam waktu 2 jam. Waktu rata-rata para pendaki naik. Namun kali ini yang naik adalah si Gendut!!

Foto-foto di bawah ini mungkin adalah satu cara saya dalam menceritakan betapa indahnya kawah ini.

Kawah Ijen Banyuwangi
Kawah Ijen Banyuwangi
kawah ijen banyuwangi
Kawah Ijen Banyuwangi
kawah ijen banyuwangi
Kawah Ijen Banyuwangi
kawah ijen banyuwangi
Kawah Ijen Banyuwangi
Kawah Ijen Banyuwangi

Turunan yang Menyiksa

Tanpa terasa sudah lebih dari 1 jam kami berada di atas, menikmati apa-apa yang sangat layak dinikmati. Tiba-tiba kami pun dipaksa turun oleh hujan rintik dan angin yang sangat kencang yang dinginnya benar-benar membekukan pipi. Sarung tangan yang tadinya sempat dilepaspun mulai dipasang lagi. Langkah turun pun lebih berirama kencang dibandingkan saat menanjak tadi.

Persis setelah Pos Bunder –sesuai dugaan– jalur mulai berasa sangat tidak bersahabat dengan saya. Kalau pada saat naik sebelumnya, saya harus menahan kaki agar tidak merosot ke belakang, nah pada saat turun, lutut dan telapak kaki pun harus bekerja 5 kali lipat dalam menahan bobot tubuh (ditambah gravitasi bumi). Sang kaki butuh usaha ekstra agar badan inu tidak merosot dan terpelanting ke depan karena jalurnya yang licin oleh kerikil dan pasir.

kawah ijen banyuwangi
Muka cerah, 200 m lagi gerbang finished, jalur ini kemiringannya sekitar 35 derajat dan lapisan atasnya terdiri dari pasir dan kerikil.

Kalau pada saat nanjak saya hanya berhenti sebentar dan sesekali untuk sekedar mengambil nafas, maka pada saat turun ini saya harus benar-benar berhenti sekitar 4 sampai 5 kali, duduk dan memijat-mijat betis serta memperlancar darah di telapak kaki.

Alhamdulilah

Pada akhirnya, dikejauhan saya melihat pintu gerbang. Rasanya pengen lari aja biar cepat sampai, tapi telapak kaki ini rasanya udah bengkak. Pelan-pelan dan akhirnya tiba juga di gerbang.

kawah ijen banyuwangi
Senyum senang sambil menikmati bengkaknya telapak kaki.

Langsung saja saya menuju ke salah satu warung, memesan teh manis panas, 1 porsi nasi goreng yang akhirnya nambah, dan bergegas membuka sepatu. Begitu sepatu dibuka… wuihhhhh… lega rasanya. Segera saya ambil posisi yang enak untuk mengangkat telapak kaki ke atas agar darah yang sudah terkumpul di bawah kembali mengalir.

Alhamdulilah akhirnya saya bisa mengakhiri perjalanan saya ke Kawah Ijen Banyuwangi ini, dengan sebuah kenangan yang sangat tidak mungkin untuk dilupakan.

About Eka Siregar

Halo.. panggil Bang Eka aja ya.. pada dasarnya saya senang jalan-jalan, makan dan mengerjakan atau mencoba hal-hal baru. Nah, di sini saya coba bagi ke teman-teman apa-apa yang telah saya lihat, dengar, dan rasakan sendiri. Silahkan dibaca-baca ya..

Check Also

Parang Gombong

Parang Gombong, Pertama Kali Datang Langsung Kesal eh Menyesal? (1)

Tulisan tentang Parang Gombong ini ada Kuis Berhadiahnya. Pertanyaan ada di akhir tulisan. ~~~~~~ Pernahkah …

Wisata Kampung Pulo Garut, Hadiah Eyang untuk Kota Intan

SERI SWISS VAN JAVA — #4  : Wisata Kampung Pulo Garut PERJALANAN KE KAMPUNG PULO …

107 comments

  1. Luar biasa prosesnya Bang merubah kebiasaan memang sulit, tapi dengan semangat naik gunung akhirnya bisa berubah, semangat…

  2. Keren, preparationnya super sekali 😊😊😊

  3. Persiapannya gokil Om, ga sia-sia pemandangannya keren banget.

  4. Keren bang Eka, catatannya komplit dan punya ceruk pasar sendiri: orang gendut, hehe…
    Tapi gak ikut ke bawah ya Bang, ke blue fire
    Ohya, itu ongkos ojeg murah 150 ribu PP. Oktober 2017 saya ke sana, 900 rb PP

  5. Keren banget Bang Eka. Salut dengan semangat, persiapan dan endingnya alhamdulillah ya Bang. Saya bold nih untuk tips persiapkannya. Terimakasih untuk tulisan bergizi tingginya ya…

  6. Terimakasih tulisan nya bang, kebetulan 4 hari lagi saya ingin kesana

  7. Keren gaya tulisannya Bang, runut dan detil.
    Itu pemandangan Kawah Ijennya kok bagus. Jadi pengen kesana.

  8. wow! sekarang ada gerobak ojek menuju ke atas ya.
    keren om eka! semoga bersemangat selalu.

  9. Terimakasih bang untuk tulisan yang bergizi tinggi ini. Terutama tentang persiapan, noted pisan. Selama ini kalau nanjak saya nyaris tanpa persiapan. Padahal punya berbagai keterbatasan fisik.

  10. Keren babang..
    Btw saya baru tahu lho kalo di jawa timur ada gunung merapi jg. Hahhaha.. 😅😅😂

  11. Selamat ya bang Eka sudah visit ijen. ijen yang selalu tante rindukan. suatu saat balik kesana lagi.
    Bagus2 fotonya eka. keren👍😊

  12. Bikin semangat yang endut-endut untuk naik gunung Bang Eka..keren.

  13. Keren bang.. sayang yah ga ketemu sama si blue fire hehehe…

  14. Noted, aku harus persiapan yang sama ya om. Wkwkwk

  15. Aku kuyus tp ga ada salahnya dicoba kan tipsnya sptnya sama aja biar pas disananya kuat 😂
    Btw foto2nya kece2 yaa segerr

  16. Bang eka, selamat ya…..
    Memotivasi diri sendiri itu adalah hal paling hebat yg bisa dilakukan..

    Perjalanan panjang bisa terbayangkan detail dan menarik untuk saya yg belum pernah ke ijen.

    Jasi pengen kesana, terimakasih bang….

  17. Ihhhh jadi pengen kesana

  18. ngangenin sih kawah ijen,pengen ke sana lagi

  19. Inspiratif..kuncinya tekad, semangat dan persiapan ya Bang..
    Jadi pingin ke Ijen

  20. Wah jadi kangen ijen, waktu pergi kesana belum aja gojek gerobak 🤣🤣🤣. Baru sadar kalo ijen itu gunung. Kawahnya kaya foto kalender Bang. Salut sama tekadnya Bang Eka. Persiapannyapun penuh perhitungan. Keep eksplore Bang.

  21. Keren! Di mana ada niat dan usaha di situ ada hasil. Jadi nextnya mau trekking atau naik mana lagi Bang?

  22. jadi inget pas solo trip ke ijen langsung dari flores ! jadi kangen huhuhu

  23. Terima kasih untuk tips yang sangat berguna buat orang gendut dan sudah lama ga tracking seperti saya. Foto2nya keren, Bang.

  24. Kalau turun kawah butuh perjuangan ekstra lagi bang. Jalurnya cuma bisa muat dua orang dan juga sisinya adalah jurang. Sangat beresiko tinggi

  25. Waaah seru banget, bang, segala persiapannya noted banget nih

  26. Waaah mantab nih, bang eka, noted banget segala persiapannya

  27. Duh harus jadi panutan nih.. keren banget bang Eka

  28. Akhirnya nyampe juga ya ke kawah Ijen.. Luar biasa persiapannya Bang. Kayaknya disuruh balik lagi tuh ke Ijen buat liat blue firenya.. 🙂

  29. Alhamdulillah. Persiapan yang luar biasa. Menginspirasi para traveller

  30. Salut sama Bang Eka. Semangatnya selalu menggebu dan benar2 bisa membuktikan jika bobot yang berlebih bukan penghalang untuk bisa naik gunung 🙂

  31. Luar biasa nih abang. Bisa diaplikasikan. Dari tulisan abang, jadi berasa ketampar, kalau bener-bener punya keinginan harus punya persiapan yang matang, maka keinginan itu akan tercapai.

    Salut bang.

  32. Ya Allah ceritanya enak banget babang, serasa ikut kebawa ke suasananya di sana. makasih ceritanya. jalan-jalan terusss

  33. Babang serius 18 lantai? aku di kantor lama, 8 lantai aja pengen nangis. hhi

  34. Babang serius 18 lantai? aku di kantor lama, 8 lantai aja pengen nangis. hhi
    Keren lah, 18 lantai banget

  35. Salut ama babang.. aku dulu jaman2 awal naik juga ngos ngosan banget.. oya bahkan aku orang jatim belum pernah ke ijen.. payah sekali.. haha..

  36. Ahh…jd kangen kawah ijen dan terinspirasi buat nulis kenangan di kawah ijen dulu. Pemandangan yg menakjubkan dan pertama kali naik gunung tinghi. Aku bacanya pelan2 dan meresapi loh…biasanya kalo tulisan ttg gunung aku lgsg skip, tp ini tulisannya bikin aku pgn baca sedetail2 nya. Bravo

  37. Aaaa seru bgt ke ijen, salah satu bucketlist aku yg belum kesampean, makasih babang infonya

  38. Keren bang semangatnya. Dan persiapan perlengkapannya super banget, sampe beli trackpole dan dekker jugaa 😁

  39. Hebat Bang Eka pengalamannya ke Kawah Ijen Banyuwangi.. foto2nya jg keren banget.. trus tulisan Babang udah lain iih.. udah sangat2 ter-SEO hihihi.. teladan!

  40. Persiapannya panjang juga, Bang. Informatif banget buat saya, karna saya juga mau ke sana nih.

  41. Ratjuunn! Sampai sekarang mae belum berani buat naik ke kawah ijen. Masih belum percaya sama kemampuan diri.

  42. Yang diingat malah hijab traveller saat baca ini haha

  43. kirain mau naik gerobak wkwk.
    Ini nih yg dipinginin dr dulu tapi gtw knp g kesana sana

  44. Tipsnya bermanfaat banget ini dan penting untuk diketshui banyak orang. Aku pertama kali ke Ijen berdua sama teman dan dia muntah-muntah di pertengahan. 😅

  45. Harusnya aku bilang: Bang Eka aja bisa masa aku nggak bisa? Tapi menurutku orang nggaj gendut pun persiapannya harus begini juga. Apalagi aku gak pernah naik gunung 😀

  46. kalau buat orang difabel apa saja yang perlu dipersiapkan?

  47. selamat ya bang Eka…. sudah berhasil mengalahkan rintangan…
    betewe aku suka template fotonnya… keren.. ini pakai aplikasi apa?

    Jadi semua foto bang Eka di blog ini benar-bernar beridentitas deh..
    ga pegel bang?

  48. hehehe…ini sih bakalan jadi panduan wajib besok pas ke ijen….belum sampe sana soalnya…hahah detail banget, makasih bang eka

  49. ejie belom pernah kesana, bang.. pengen euy

  50. pengen kaya bang eka, ngurusin badan biar bs ikut travelling ke gunung2 gitu
    bang eka keren banget dah pokoknya, kalo dah niat pasti dijalanin
    https://helloinez.com

  51. Yang seru ke Ijen naik Taksi Ijen, tapi ya Alloh mahalnya :p
    Btw dengar dengar Ijen mau di bangun kereta gantung .

    Bener ga bang

  52. Merubah habit agar badan menyesuaikan ya bang, itu gak gampang banget! Apalagi kalo buat orang yang gak suka proses & pengennya yang instan. Keren banget deh si abang ini 👍

  53. Perjuangan Naik Dan turun betul2 sepadan dengan pengalaman yg didapat. Selamat ya

  54. Salut deh bang, bobot yang over extra large ternyata bukan halangan untuk bisa sampai ke kawah Ijen Banyuwangi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: