Home / TRAVELING / JAVA ISLAND / Wisata Kampung Pulo Garut, Hadiah Eyang untuk Kota Intan

Wisata Kampung Pulo Garut, Hadiah Eyang untuk Kota Intan

SERI SWISS VAN JAVA — #4  : Wisata Kampung Pulo Garut

PERJALANAN KE KAMPUNG PULO GARUT

Wisata Kampung Pulo Garut adalah perjalanan wisata yang sulit terkatakan rasanya. Bagi saya, kehadiran saya di kampung ini benar-benar bagai sedang menjejakkan kaki ke tanah “kelahiran” saya. Saat berkeliling ada rasa haru, bangga sekaligus sedih yang bercampur aduk menjadi satu.

Semua rasa itu timbul karena saat itu saya menyaksikan langsung kondisi kehidupan “saudara-saudara” saya di sana. Meskipun mereka hidup dalam kehidupannya yang sangat sederhana, tapi mereka mampu tampil menjadi contoh warga yang hidup dalam tata kehidupan yang tertib, patuh pada norma adat yang berlaku dan taat dalam beribadah.

Dari raut mukanya, terpancar pancaran aura  kebahagiaan yang berbeda sekali jika dibandingkan dengan kebahagiaan yang terpancar dari orang-orang yang tinggal di perkotaan saat ini.

wisata kampung pulo garut
Menyeberangi Danau Cangkuang, menuju tanah leluhur

Saya lahir di Medan dengan marga Siregar. Sebagian masa kecil saya dibesarkan di Medan dan di Garut. Ya, kota Garut, kota kelahiran ibu saya. Ibu saya asli Garut, tepatnya keturunan langsung dari anak ke–5 Eyang Embah Dalem Arif Muhammad, leluhur Kampung Pulo. Kampung yang saya datangi saat itu. Itu sebabnya saya berani berkata, kalau saat itu saya seolah merasa sedang hadir di tanah kelahiran sendiri.

Kedatangan saya ke Kampung Pulo, satu rangkaian dengan agenda nostalgia yang lainnya. Bersama dengan teman-teman satu komunitas di Backpacker Jakarta, saya ajak mereka untuk mengeksplore tanah leluhur saya. Tanah tempat saya dibesarkan. 

Dan tujuan pertama eksplorasi kami adalah Situ dan Candi Cangkuang yang berada satu daerah dengan Kampung Pulo.

Cerita lengkap tentang Situ dan Candi Cangkuang baca :
Cangkuang, Perjalanan Rindu ke Artefak 2 Agama

KAMPUNG PULO

Setelah membayar tiket masuk ke area wisata Cangkuang kami pun menyeberangi Situ (Danau) Cangkuang, dengan menggunakan rakit. Setelah tiba di pulau, jalanan menuju ke Kampung Pulo aksesnya sudah sangat rapi, baik, dan mudah. Ikuti saja satu-satunya jalan setapak yang sudah dilapisi semen. Di sepanjangan jalan menuju Kampung Pulo tersebut kita akan menemui banyak lapak para pedagang yang menjual kerajinan khas sunda dan kerajinan daerah setempat.

Di tengah perjalanan saat sedang berusaha mencari orang yang bisa menjadi Guide, saya berjumpa dengan salah satu penduduk dengan pakaian yang tidak biasa. Mengenakan baju Salontreng (baju laki-laki khas Sunda) hitam dan celana Pangsi (celana lak-laki khas Sunda) hitam serta mengenakan Logen (ikat kepala) yang terbuat dari kain batik. Langsung saja saya bertanya ke beliau, saya jelaskan kalau di pintu masuk kami disuruh mencari Guide di pulau. Pucuk dicinta ulam pun tiba, ternyata beliau adalah pengurus Museum Situs Cangkuang, dan kami pun langsung berjalan bersama beliau.

wisata kampung pulo garut
Salah seorang dari komunitas di depan Gerbang Kampung Pulo

Cuma sekitar 10 menit kami sudah tiba di Gerbang Kampung Pulo. Kampung Pulo adalah sebuah kampung adat di Jawa Barat. Dikatakan kampung adat, karena warganya masih mempertahankan tatali piranti karuhun (adat istiadat leluhur) dalan kehidupannya sehari-hari.

Suasana di kampung sangat lengang dan sepi, menurut Pak Guide, bukan karena masih pagi, tapi memang begitu kondisinya. Padahal ada sekitar 23 orang yang tinggal di kampung yang hanya terdiri dari 7  bangunan itu. Kampung tersebut terlihat bersih sekali, benar-benar tidak ada sampah yang berserakan. Tentu saja hal ini akan membuat malu orang-orang yang suka membuang sampah sembarangan. 

wisata kampung pulo garut
Suasana dan kondisi Kampung Pulo, bersih dan lengang.

Selain bersih, kampung yang menandakan awal mulanya penyebaran Islam di wilayah Cangkuang, suasananya sangat asri, tenang, dan nyaman saat kami kunjungi.

ASAL USUL KAMPUNG PULO

Penduduk Kampung Pulo merupakan keturunan dari almarhum Eyang Embah Dalem Arif Muhammad. Waktu itu Eyang yang menyebarkan agama Islam di daerah yang sekarang dinamakan Cangkuang.

Eyang mempunyai 7 orang anak yang terdiri dari 6 anak perempuan dan 1 anak laki-laki. Eyang dan anak-anaknyalah yang menempati kampung tersebut. 3 rumah berjejer berseberangan dengan 3 rumah lain yang berjejer lurus di peruntukkan untuk anak-anak perempuannya. Sedangkan di ujungnya, di samping gerbang masuk, ada 1 buah rumah yang berfungsi sebagai mushala dengan tempat wudhu di sampingnya. Rumah tersebut diperuntukkan untuk anak laki-lakinya.

wisata kampung pulo garut
7 Bangunan yang ada di Kampung Pulo

Sampai dengan saat ini yang menempati rumah-rumah tersebut masih tetap keturunan dari Eyang. Diperkirakan saat ini adalah generasi kedelapan, kesembilan, dan kesepuluhnya. Jumlah kepala keluarga yang ada di kampung tersebut pun tidak boleh bertambah. Tugas mereka yang tinggal di kampung tersebut adalah untuk menjaga kelestarian dari Adat Kampung Pulo. Jadi… mereka yang ada di dalam kampung tidak boleh keluar. Bahkan mereka tidak boleh mencari nafkah di luar dari wilayang Kampung Pulo.

Banyak hal unik di Kampung Pulo ini selain mengenai mencari nafkah tadi, yang lainnya adalah mengenai warisan. Anak yang bisa menerima warisan tidak hanya laki-laki, tetapi juga anak perempuan. Hal ini disebabkan karena anak laki-laki satu-satunya dari Eyang, meninggal dunia pada saat masih kecil.

Meninggalnya anak laki-laki satu-satunya tersebut jadi pembelajaran dan menjadi asal muasal beberapa tradisi serta larangan yang berlaku di Kampung Pulo.

LARANGAN ADAT

Sekitar 200 meter, tidak jauh sebelum pintu gerbang, kita akan melihat 1 papan besar yang berisi tulisan tentang larangan adat yang berlaku di Kampung Pulo ini. Larangan-larangan tersebut adalah :

wisata kampung pulo garut
Larangan adat masyarakat Kampung Pulo

1. Tidak boleh berziarah pada hari Rabu. 

Baik tamu maupun penduduk Kampung Pulo dilarang berziarah pada hari Rabu dan malam Rabu. Larangan berziarah di hari tersebut, dikarenakan pada saat Eyang masih hidup, hari Rabu tersebut digunakan untuk memperdalam ajaran agama Islam. 

2. Tidak boleh memukul atau menabuh gong besar dari perunggu.

Hal ini berawal dari musibah yang menimpa anak laki-laki satu-satunya dari Eyang. Saat itu Eyang mengadakan pesta besar saat sunatan putranya. Acara dimeriahkan dengan Tarian Sisingaan yang diiringi oleh musik gamelan yang menggunakan gong perunggu besar. Tiba-tiba ada angin badai dan sang putra jatuh dari tandu lalu meninggal.  Maka dari itu, agar tidak terulang lagi, maka hal tersebut dijadikan larangan.

3. Tidak boleh membuat rumah beratap jure (prisma), selamanya harus memanjang.

Seluruh bentuk dari atap rumah bangunan di Kampung Pulo, bentuknya sama, yakni memanjang atau jolopong mengarah ke Utara dan ke Selatan. Hal ini juga berhubungan dengan kisah anak laki-laki Eyang Embah Dalem Arif Muhammad yang celaka dan meninggal saat diarak menggunakan tandu yang berbentuk prisma.

Hal lain yang berlaku di bangunan yang terdapat di kampung adat tersebut adalah, mengenai bahan dari atap rumah. Rumah Ketua Adat memakai penutup atap ijuk, sementara itu rumah yang lainnya menggunakan atap genting.

wisata kampung pulo garut
Penulis di depan rumah Ketua Adat

4. Tidak boleh menambah, mengurangi bangunan pokok dan kepala keluarga.

Jumlah kepala keluarga di Kampung Pulo tidak boleh lebih dari 6 orang, disesuaikan dengan jumlah bangunan yang dihuni. Jadi seandainya ada yang menikah, maka mereka hanya boleh tinggal paling lama 2 minggu. Dan kepala keluarga yang tinggal tersebut adalah kepala keluarga yang berasal dari keturunan anak perempuan. Apabila ada kepala keluarga yang meninggal, maka untuk mengisi kekosongan kepala keluarga yang sudah keluarlah yang menggantikannya, tentu saja setelah diseleksi oleh Ketua Adat

Begitu juga dengan jumlah bangunan atau rumah yang ada di sana. Sejak abad 17 M, jumlah bangunan yang terdapat di dalam Kampung tersebut hanya 7 saja. Tidak boleh ditambah. Bangunan-bangunan tersebut merupakan simbol dari anak perempuan dan anak laki-laki Eyang Embah Dalem Arif Muhammad.

wisata kampung pulo garut
Bangunan mushalla, simbol anak laki-laki di Kampung Pulo
5. Tidak boleh memelihara hewan ternah besar berkaki empat.

Penduduk Kampung Pulo mata pencahariannya adalah bercocok tanam di sawah dan di kebun. Oleh sebab itu dikhawatirkan kehadiran dari hewan ternak besar berkaki 4 dapat merusak tanaman mereka. itulah alasan utama diberlakukanlah larangan tersebut. Di samping memang di kampung itu banyak makam keramat, sehingga dikhawatirkan pula hewan-hewan besar itu mengotori area makam. Meskipun demikian, mereka tidak dilarang untuk memakan dagingnya yang berasal dari luar kampung.

EMBAH DALEM ARIF MUHAMMAD

Lantas, siapa sebenarnya Eyang Embah Dalem Arif Muhammad? Tidak banyak catatan atau naskah sejarah yang ditemukan yang bercerita tentang Embah Dalem Arif Muhammad.

wisata kampung pulo garut
Lukisan Eyang Ambah Dalem Arif Muhammad di Museum Situs Cangkuang

Eyang hanya diketahui sebagai seorang senopati dan panglima perang dari Kerajaan Mataram Islam di Yogyakarta. Bersama pasukannya, Eyang ditugaskan oleh Sultan Agung untuk menyerang VOC di Batavia. Namun, ternyata Eyang tidak berhasil mengalahkan VOC. Karena kegagalannya tersebut Eyang memutuskan untuk tidak kembali ke Mataram dan memilih menyingkir serta tinggal di tanah Sunda, di daerah Cangkuang, Leles. 

Saat tiba dan pertama kali menetap di daerah tersebut, masyarakat di Cangkuang masih memeluk agama Hindu serta animisme dan dinamisme. Kemudian Eyang mulai “meng-Islam-kan” masyarakat setempat pada abad ke 17 M. Hal tersebut dilakukan secara bertahap dengan tetap melaksanakan beberapa kebiasaan dari masyarakat setempat yang berasal dari tradisi Hindu, seperti halnya memandikan benda pusaka, syukuran, dan beberapa ritual lainnya.

Lalu, bersama masyarakat setempat Eyang membendung dan membuat sebuah danau yang sekarang dinamakan Danau Cangkuang.

wisata kampung pulo garut
Koleksi Naskah dan Al Quran di Musem Situs Cangkuang

Bukti dari penyebaran dan pengajaran agama Islam oleh Eyang Embah Dalem Arif Muhammad disimpan dan dipamerkan di Museum Situs Cangkuang yang berada di seberang Makam Eyang. Selain naskah Al Quran dari abad ke 17  M yang terbuat dari Daluang (kertas tradiosional yang terbuat dari batang pohon Saeh/Deluang), terdapat pula naskah khotbah Jumat dari abad ke 17 M yang berisi tentang keutamaan dari puasa dan zakat fitrah, sepanjang 167 cm.

MAKAM EMBAH DALEM ARIEF MUHAMMAD

Saat ini, Kampung Pulo dipimpin oleh sesepuh adat. Sesepuh adat ini yang biasanya disebut kuncen. Salah satu tugas dari Kuncen adalah mengantarkan tamu yang hendak berziarah ke makam Eyang Embah Dalem Arif Muhammad.

wisata kampung pulo garut
Makam Eyang Embah Dalem Arief Muhammad

Selain berhubungan dengan makam, kuncen juga berhubungan dengan candi. Selain itu, Kuncen juga bertugas untuk meluruskan bahwa ziarah ke makam itu bukan untuk meminta, akan tetapi untuk mendoakan. Hal ini perlu dijelaskan agar pengunjung terhindar dari musyrik.

TERAKHIR

Mengenal tentang kita, tidak hanya mengenal tentang apa sifat dan kebiasaan kita. Apa yang kita suka dan tidak suka. Bukan hanya tentang diri kita sendiri. Tapi yang lebih penting adalah mengenal dari mana asal kita dan apa tanggung jawab yang diberikan pada kita.

“Terima kasih Eyang, bangga menjadi keturunanmu. Bangga dialiri darahmu. Dan saya berjanji untuk memberikan yang terbaik bagi keturunan dan orang lain seperti yang Eyang lakukan selama ini.”

Terima kasih Eyang, telah memberikan sebuah hadiah lain yang indah untuk kota kita, Garut Kota Intan.

INFO PENTING

Berikut ini beberapa info penting untuk bisa datang ke Cangkuang.

Bus Umum : Rp. 50.000,- s.d Rp, 55.000,-
Delman dari alun-alun Leles ke lokasi : Rp. 10.000,- s.d Rp. 15.000,-
Ojek dari alun-alun Leles ke lokasi : Rp. 10.000,- s.d Rp. 15.000,-
Tiket masuk lokasi : Rp. 5.000,-
Rakit Danau Cangkuang : RP. 10.000,-

Tempat wisata buka mulai puku; 07.00 WIB s.d 17.00 WIB.
Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi atau sore hari.
Akses menuju lokasi, bisa di baca di artikel : Cangkuang, Perjalanan Rindu ke Artefak 2 Agama

SERI SWISS VAN JAVA :
Wisata Kampung Pulo Garut adalah salah satu dari Seri Swiss Van Java. Seri ini adalah seri yang bercerita tentang pesona yang dimiliki oleh Kabupaten Garut yang dikenal sebagai SWISS VAN JAVA – Swiss-nya Jawa – saking indah dan sejuknya.

Baca juga :
Seri Swiss Van Java — #1
Seri Swiss Van Java — #2
Seri Swiss Van Java — #3

About Eka Siregar

Halo.. panggil Bang Eka aja ya.. pada dasarnya saya senang jalan-jalan, makan dan mengerjakan atau mencoba hal-hal baru. Nah, di sini saya coba bagi ke teman-teman apa-apa yang telah saya lihat, dengar, dan rasakan sendiri. Silahkan dibaca-baca ya..

Check Also

Parang Gombong

Parang Gombong, Pertama Kali Datang Langsung Kesal eh Menyesal? (1)

Tulisan tentang Parang Gombong ini ada Kuis Berhadiahnya. Pertanyaan ada di akhir tulisan. ~~~~~~ Pernahkah …

Kawah Ijen Banyuwangi

Kawah Ijen Banyuwangi, Pesona dan Jalurnya, Menggoda si Gendut

Bagi para pencinta alam, Kawah Ijen Banyuwangi adalah nama tempat yang tak asing lagi di …

29 comments

  1. Saya beberapakali ke Garut untuk wisata ziarah dan wisata kuliner. Selain dodol ada juga keripik khas garut yang saya suka banget, eh tapi lupa namanya bang hehehdb

  2. Saya udah pernah nih mampir ke sini, saat menyeberang danau tiba2 hujan deras, alhasil basah kuyup semua krn atap rakit tidak bisa menampung air hujan hahahaha

  3. Aduh, tulisan bang Eka, makin membuat saya rindu Garut, tepatnya kota Leles, tanah kelahiran kakek saya.
    Ternyata banyak situs sejarah dekat kota Leles ya..
    Terima kasih.infonya

  4. Garut lengkap ya Bang Eka, wisata alam, budaya dan sejarah juga. Destinasi yang noted bangettt ini. Haturnuhun untuk informasinya… keren pisan

  5. Selalu suka baca ulasan Om Eka, komplit sekali. Jadi ingin ke Garut
    Btw jadi kepikirian yang BOB Kubbu dibikin seri juga hehe

  6. Jadi tau nie asal usul bang eka, hehehe.
    Thx infony eka, tante jadi pengen secepatnya visit garut.

  7. Keren Bang Eka….detail banget infonya.

  8. Wih keren ulasanya, kumplit infonya.
    Surprise juga babang ternyta keturun mbah dalem. Berarti bisa tuh suatu saat babang dipanggil tinggal disana hehe…

    Tapi katanya juga, dulu awal kerajaan kendan (cikal galuh) dari sekitaran cangkuang ya. Cuma belum tau sekuat apa validnya.

  9. salam kenal mas
    saya angkat topi dulu sama gaya berceritanya mas
    sukaaaaa
    saya hanya bisa lewat garut kalau ke Bandung
    sungguh ingin sekali menjejak tanah luhur ini
    apalagi, ke situs cangkuang yang luar biasa peninggalannya tersebut
    salam

  10. Saya suka sekali dengan larangan-larangan tersebut. Dulu saya mengetahui kampung Polo lewat layar televisi ,senang rasanya membaca artikel ini. Lebih lengkap informasinya.

  11. wah aku juga sudah pernah ke sana, kampung yang unik dan masih mempertahankan tradisi

  12. Wah ini…. saya baru tahu ada kampung adat Kampung Pulo di Garut. Terima kasih infornya Bang Eka.

    Oh, jadi memang campuran Batak-Garut ya… Hihi, Pertama kali ketemu Bang Eka, saya agak bingung karena namanya Siregar tapi logatnya Nyunda. Jadi teringat guru saya yang ngaku-ngaku Siregar, tapi nama depannya Sunda banget, plus logat Nyundanya yang kental. Eh, ternyata Siregarnya bukan marga, tapi singkatan aja; “Sisa Remaja Garut.

    jadi Bang Eka menghabiskan masa remaja di mana?

  13. Wah liat costnya murah, saya dari alun-alun Leles ke pintu masuk Cangkuang (50K) … Saya Carter sendiri hehehe

  14. Wah, baca cerita objek wisata kek gini, pengen deh rasanya bisa travelling ke sana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *