Home / STORY / Cerpen (Cerita Pendek) / Puisi Abang – Sebuah Cukilan Cerita

Puisi Abang – Sebuah Cukilan Cerita

Bismillah…

Pada akhirnya, inilah yang pertama saya lakukan. Menuliskan sebuah penyesalan. Sebuah puisi abang untuk adik tersayang. Sebuah puisi yang menimbulkan pertanyaan bodoh di bawah ini. “Sebuah puisi abang untuk Neng.”

Pernahkah merasa sangat menyesal di dalam hidup atau mungkin merasakan kehilangan yang terangat sangat? Pernahkan merasakan penyesalan akibat terlalu angkuh untuk mengakui? Semua itu pernah saya rasakan. Bahkan di satu waktu sekaligus. Di suatu malam, di samping adik yang sangat saya sayangi dan telah tiada….

Neng cantik sekali malam ini
Cuma dua kecup yang tersempatkan
Yang tersesalkan
Sebelum mimpi tak pernah sampai
Karena kau cepat terlelap

puisi abang eka siregar
Neng

Sebagai anak tertua, saya tumbuh dalam keluarga yang membuat saya tidak lagi hanya bermimpi untuk membesarkan adik-adik saya, tetapi saya mewajibkan diri saya untuk memujudkan apapun impian mereka. Saya hidup untuk itu. Keberhasilan utama saya adalah membuat mereka tumbuh menjadi seperti apa yang mereka inginkan.

Kondisi ini membuat saya memutuskan untuk tidak mencari dan menerima semua pekerjaan sebagai pegawai orang — karena saya yakin — gaji sebagai pegawai orang, tidak akan pernah cukup dan mampu mewujudkan semua mimpi adik-adik saya.

Keinginan untuk mewujudkan semua impian adik-adik tersebut — bahkan tanpa sadar — selalu menjadi lagu pengantar aktifitas harian saya, di hati. Terngiang-ngiang sepanjang waktu dan menjadi instruksi pasti di alam bawah sadar saya.

Terutama untuk Neng Ayu, adik paling kecil kami, perempuan satu-satunya dari kami, 4 bersaudara. Tiada satu apapun yang kami — abang-abangnya — lakukan, kecuali semata-mata hanya untuk membahagiakan dia. Menjaga Neng seolah menjaga sebuah kristal rapuh yang tak akan kami biarkan disentuh orang apalagi sampai ada yang memecahkannya.

“Dari sini awal puisi abang untuk Neng bercerita.”

Sejak dia kecil

Setiap pagi, tugas saya adalah mengantarkan Neng ke sekolah, dari TK sampai dengan kelas 3 SD karena saat saya harus berpisah pulau dengannya. Sebagai abang, saya berusaha menerapkan kedisiplinan untuk adik-adik saya, tidak terkecuali Neng. Inilah awal penyesalan saya, alasan tulisan semua puisi abang untuk Neng. Sungguh.

puisi abang eka siregar
Neng

Memanjakannya dari kecil sampai TK dengan memandikan dan menyiapkan semua bekal sekolahnya lalu mengantarkannya sampai menemaninya hingga bubaran kelas TK, saya rasa cukup untuk tidak melakukannya lagi saat Neng sudah di duduk bangku SD. Itu yang saya camkan ke dia.

Saya ingat betul, waktu saya mengatakan tentang hal tersebut kepadanya, Neng diam saja. Matanya sedikit berair tapi enggak ada satupun protes yang keluar dari mulutnya. Neng nurut banget. Namun sedetik kemudian, hati ini menyesal sudah terlalu keras kepadanya. Ego terlalu tinggi untuk mengakuinya dan meminta maaf. Inilah penyesalan berikutnya.

Ya Allah… terima kasih atas kenangan ini.

Sampailah saat di mana kamipun tiba di gerbang sekolah barunya, di hari pertamanya masuk di SD. Sejak melewati gerbang sekolah, Neng sudah menguatkan genggaman kedua telapak tangannya di pergelangan tangan saya. Saya tahu dia takut tetapi saya harus menunjukkan sikap santai. Sampai pada suatu saat, Neng melihat salah satu anak di sekolah itu yang mengejek ke arah dirinya yang tengah ketakutan… Neng lari. Sembunyi ke balik salah satu tembok sekolah.

Saya pun panik. Kesal bercampur sedih dan tak tega. Saya susul dia. Dia terlihat menangis ketakutan, bahkan… tangisnya bertambah kuat karena ketakutan melihat kehadiran saya. Ya Allah… sejahat itukah saya…? Lalu segera saya peluk dia. Saya belai rambutnya. Saya kecup keningnya. Saya berbisik kepadanya, “Neng… Neng enggak usah takut. Kan ada abang. Abang yang akan jaga Neng selamanya. Abang janji.”

Seumur hidup saya, itulah kecupan pertama saya untuknya. Kecupan untuk Neng. Ya Allah… terima kasih atas kesempatan yang telah Kau berikan. Entah seperti apalagi sesal yang akan saya terima jika saat itu kau tetap membekukan hati saya.

Neng menangis malu lari ke tembok sekolah
Ada sekecup sayang di kening
Hapus ragu malu ketemu teman baru
Di sekolah baru
Itu yang pertama abang ingat

“Neng ini bagian kedua dari puisi abang untuk Neng.”

Permintaan Mengejutkan

Kehidupan kami pun berjalan sesuai dengan rencana saya, pada awalnya. Saya berhasil membesarkan adik-adik saya sesuai dengan keinginan mereka. Neng tumbuh menjadi gadis cantik yang membanggakan keluarga. Banyak sekali prestasi yang dia raih. Hingga pada suatu hari dia menghubungi saya dan mengatakan ingin menjadi seorang polisi wanita.

Saya pun kaget, bagaimana mungkin seorang gadis yang pernah menjadi salah satu pemenang dalam kontes Putri Indonesia, Paskibraka Sumatera Utara, dan prestasi-prestasi lainnya, tiba-tiba ingin menjadi seorang polisi, yang saya tahu pelatihan dan kehidupannya pun akan sangat keras. Bahkan yang membuat saya tertegun adalah alasannya.

“Bang, Neng mau daftar jadi Polwan aja ya. Biar Abang gak susah-susah lagi nyekolahin Neng. Biar Neng bisa cepat langsung dapat uang. Jadi Neng nanti bisa lanjut sekolah sendiri.”

puisi abang eka siregar
Neng

Saya terdiam sejenak. Di balik gagang telepon di Jayapura, saya pun bingung hendak berkata apa. Saya telah berjanji pada adik-adik saya untuk memenuhi impian mereka dan membebaskan mereka menjalani hidup, sesuai mimpi mereka. Namun saya juga khawatir sekali.

Pada akhirnya, saya pun hanya bisa berkata, “Ya udah, kalau itu mau kau, Neng. Baek-baek kau di sana ya.” Tanpa sedikitpun menunjukkan rasa khawatir atau mencegahkannya.

Baca juga :  “Memancing Bersama Adik”.

Padahal… ingin sekali rasanya saya pulang ke Medan, menjenguk mereka yang sudah 3 tahun tidak dilihat, memeluk dan mencium semuanya, melarang Neng menjadi polisi, karena saya pasti akan berusaha untuk menyekolahkannya. Namun itu semua tidak saya lakukan. Bagi saya itu terlalu sentimentil, akan mengurangi kadar disiplin yang sudah saya terapkan dan akan menurunkan image saya nanti di depan keluarga.

Karena memang terlalu jauh yang tersesalkan.
Karena memang terlalu angkuh yang tersesalkan.

“Itu yang sempat abang tulis untuk Neng. Dalam puisi abang untuk Neng. “Maafkan abang, Neng”.

Kebanggaan Keluarga

Pada akhirnya, di akhir sisa hidupnya, jodoh dan nasib membuat saya dan Neng tinggal bersama di kota yang sama, kota Jakarta.

Karirnya di kepolisian bagus sekali. Lulus dengan predikat terbaik kedua, menjadi atlit judoka Jawa Barat, dan jadi model serta pembawa acara dalam setiap acara di kepolisian. Neng pun pernah punya prestasi menangkap seorang gembong narkotika terkenal Zarima melalui adegan kejar-kejaran yang mencekam. Neng menjadi anak paling cantik dalam keluarga, yang sangat membanggakan keluarga. Neng satu-satunya adik yang membiayai  kuliah sampai dengan S-2 dengan usaha sendiri.

puisi abang eka siregar
Neng

Sebelumnya Neng menikah dengan seorang polisi dan akhirnya mempunyai seorang putri cantik bernama Yasmine. Sayangnya Yasmine hanya berumur 3 bulan dan harus menyusul papa — opungnya — ke surga, setelah dirawat karena penyakit yang cukup langka.

Belum lama kami sekeluarga merasakan duka, tiba-tiba saya di telepon Ibu saya. Mengabarkan Neng sakit dan meminta saya untuk segera datang ke RS Santo Borromeus Bandung. Saya kaget. Saya sedang tidak di Indonesia. Setahu saya Neng dan suaminya sedang dinas di Jakarta. Selama dinas di Jakarta, dia tinggal di rumah dinas.

Perasaan saya enggak menentu. Ada rasa gamang dan sesak di dada. Dua minggu sebelum saya berangkat, Neng sempat izin menginap di rumah saya dengan alasan enggak enak badan dan suaminya lagi dinas luar kota. Katanya dia kesepian. Saya izinkan. Namun setelah hampir satu minggu saya mulai menegurnya. Takut suaminya marah. Neng nurut seperti biasa dan sebelum pulang dia sempat meminta selimut yang selama ini dia pakai di rumah saya untuk dibawanya pulang.

Ya Allah… pertanda apa ini? Apakah agar dia selalu merasa diselimuti abangnya?
Yang jelas… jika mengingat hal itu sekarang, saya merasa jadi abang yang paling jahat sedunia, yang telah mengusirnya adiknya kesayangannya secara halus.

“Maaf kan abang, Neng. Maafkan saya ya Allah, saya tidak pernah bermaksud seperti itu.”

Permintaan Terakhir

Kabar ini bukan lagi bagai petir di siang bolong. Tapi sudah seperti bumi yang terbelah dan melayangkan raga saya ke dalam perut bumi yang seolah tak bertepi. Entah apa namaya, seluruh tubuh seperti tak bertulang lagi dan dada ini terlalu kecil untuk menahan kobaran amarah yang tak tahu harus dilampiaskan kemana. Seketika itu juga saya pingsan.

Ternyata Neng mengidap penyakit kanker pencernaan stadium 4. Selama ini Neng diam saja dengan alasan tidak mau merepotkan saya dan keluarga. Merepotkan abangnya… !! Ya Allah… kalau ini adalah hukuman atas sikap saya terhadap keluarga saya, hukuman ini terlalu berat bagi saya. Untuk apa saya bekerja keras selama ini, kalau pada akhirnya hanya membuat mereka jadi sangat sungkan kepada saya, bahkan hanya untuk sekedar mengabarkan sakit yang mereka derita.

Cuma satu bulan dari saat ibu saya mengabarkan saya tentang Neng, Neng pun meninggal dunia. Neng meninggal 4 hari setelah dia berulang tahun. Sebelum meninggal, Neng hanya minta dua buah baju kerja yang ukurannya kecil… — karena Neng bilang Neng sudah kurus –… dan Neng pun minta satu pasang boneka Miki dan Mini Mouse yang paling besar untuk hadiah ulang tahunnya.

Saya enggak sempat cari bonekanya. Hanya 2 baju yang akhirnya kita gantung di samping tempat tidur. Kami merayakan ulang tahun Neng di rumah sakit di Bandung dengan sederhana.

Tepat 4 hari setelah acara itu, ibu pun mengabarkan kalau Neng terjatuh saat dipapah hendak ke kamar mandi dan kemudian pingsan. Langsung saja saya ke Bandung dan sesampainya di Bandung tiba-tiba saya melihat satu pasang boneka Miki Mini Mouse yang cukup besar di etalase toko boneka. Seketika saya berhenti dan membelinya.

Pada Akhirnya

Sesampainya di rumah sakit saya lihat Neng tertidur pulas sekali. Baru terlihat tubuh Neng yang sudah teramat kurus. Begitu saya tiba di sisinya, saya bisikin kalau saya sudah datang. Luar biasa, Allah memang maha segalanya. Neng bangun, tapi hanya menggerakkan tangan mengarah ke kuping boneka, membelai dan memainkannya beberapa saat, lalu tersenyum dan akhirnya Neng pun pingsan kembali. Hati abang mana yang tidak akan hancur melihat ini semua. Terlebih-lebih setelah mendengar kabar kalau dokter sudah angkat tangan. Hanya ibu yang terlihat lebih tegar.

Setelah kami semua hadir dan kumpul di samping Neng, kami pun sepakat untuk tidak bersedih. Kami yakin Neng enggak mau melihat kami sedih apalagi susah. Kami panjatkan doa-doa terbaik kami. Kami bisikkan ke telinganya tentang janji kami akan menjaga Ibu, karena selama ini memang Neng yang selalu datang setiap bulan menemani Ibu.

Akhirnya Neng pun meninggalkan kami untuk selamanya. Menyusul Yasmine dan Papa. Saat itu kami masih bisa tegar. Tidak ada satupun yang menangis di depan Neng. Namun, saat jenazah Neng sedang diurus oleh para dokter, kami pun keluar satu persatu. Belum apa-apa kami sudah melanggar janji kami, kami semua menangis sejadi-jadinya. Siapa yang kuat harus kehilangan kebanggaan keluarga yang selalu kami jaga, bahkan kami harus berkelahi jika ada yang mengganggunya.

Kecupan Kedua dan Yang Terakhir

Neng… Neng cantik sekali malam ini.
Menunggu pagi datang, kami abang-abangnya tidur di sampingnya, di ruang tamu rumah ibu. Tak henti-hentinya kami menciuminya. Ciuman terakhir, yang hanya dua kali saya lakukan selama hidup saya, untuk adik yang saya bilang sangat saya cintai dan sangat saya sayangi. Hanya dua kali !!! Dari beribu kesempatan yang ada. Ego, angkuh dan jaraklah yang menyebabkannya.

Neng cantik sekali malam ini
Cuma dua kecup yang tersempatkan
Yang tersesalkan
Sebelum mimpi tak pernah sampai
Karena kau cepat terlelap

“Maaf saya ya Allah, maafkan Abang, Neng. Malam itu, abang tulis sebuah puisi yang berjudul “Dua Yang Sempat”, untuk Neng. Puisi abang untuk Neng!”

Dua Yang Sempat. Puisi Abang yang Pertama untuk Neng

Puisi “Dua Yang Sempat” adalah puisi pertama yang saya buat untuk Neng. Puisi yang melatari semua tulisan di atas, sebuah tulisan yang mencukil sebuah cerita lama. Bagi saya hal ini seolah masuk ke dalam arena peperangan gejolak logika dan perasaan yang menyakitkan. Melalui sebuah puisi yang telah lama dituliskan, cukilan ini juga menghasilkan sebuah cerita pendek yang menguak luka lama.

Baca di sini selengkapnya Puisi : “Dua Yang Sempat.”

Bagi saya, puisi “Dua Yang Sempat” memang sangat special. Selain karena sejarah dan proses penciptaannya, Puisi abang Eka (begitu saya sering disebut) yang satu itu, termasuk dari salah satu puisi yang sangat sering saya bacakan dalam setiap kesempatan acara membaca puisi.

Neng pengingat dan guru terbaik saya. Pengingat Atas segala kekakuan dan ego. Mengajari cara mengatasi rasa kehilangan dan bagaimana berusaha berdamai dengan rasa itu lalu kemudian belajar cara mengikhlaskannya. 27 tahun bersama Neng, seolah menjadi jutaan ide dalam menuliskan beragam karya puisi saya untuk Neng. Karya-karya tersebut selalu saya sebut dengan “Puisi Abang untuk Neng”. 

Puisi abang – Sebuah Cukilan cerita, adalah sebuah cerita pendek semata. Meski pendek, saya berharap agar semua bisa mendapatkan banyak pelajaran dan makna hidup dari puisi dan peristiwa yang saya tulis. Mari warnai dan maknai hidup, bersama “Puisi Abang”.

 

About Eka Siregar

Halo.. panggil Bang Eka aja ya.. pada dasarnya saya senang jalan-jalan, makan dan mengerjakan atau mencoba hal-hal baru. Nah, di sini saya coba bagi ke teman-teman apa-apa yang telah saya lihat, dengar, dan rasakan sendiri. Silahkan dibaca-baca ya..

Check Also

Cerita Tentang Papa : Tiga Temurun

Sebelumnya : Cerita tentang Papa : “Ampun, Pa!” 10 Cerita tentang Papa (6) Istriku sudah …

Cerita Tentang Papa : “Ampun, Pa !”

Sebelumnya : Cerita Tentang Papa : “Kecil Kau Enggak Mau Mati” Cerita tentang Papa (5) …

9 comments

  1. Semoga Almarhumah diampuni dosanya, dilapangkan kuburnya dan Insya Allah suatu waktu nanti berkumpul kembali bersama Bang Eka dan keluarga di JannahNya. Aamiin.

  2. Ampun, Baaang! Pantesan waktu itu menghayati banget. Ternyata ini!

  3. Assalamualaikum Bang Eka… Neng ‘pulang’ dengan penuh cinta di tengah keluarga yang sangat mencintainya, terutama kepada kakak sulungnya. Semoga amal ibadahnya menjadi penerang di tempat istirahatnya sekarang..

  4. Turut berdukacita bang..
    Gak sanggup baca sampai akhir meski uda tau endingnya dan akhirnya bisa baca sampai kalimat terakhir..
    What a touchable story..

  5. Baiklah aku nangis lagi baca tulisan Om Eka 😭😭 Turut berduka cita Om, Neng pasti bangga sekali punya abang yang luar biasa.

  6. Pasti ia sudah bahagia om, punya abang terhebatnya. Ia disayang semuanya om, makanya segera kembali “pulang”.

  7. Babang, kenapa selalu meluluh lantahkan hati pembaca begini sih! Its too deep, Bang!

    Saya sebagai anak pertama langsung lari ke kamar adik2 dan cekin mereka satu2, baper.

    Jadi inget ke si adik yang di Jogja juga, semoga dia baik-baik di sana.

  8. Di balik cerita Dua Yang Sempat.. mengagumkan sekali adik Babang ini.. MasyaAllah.. semoga beliau husnul khatimah dan mendapatkan surga-Nya. Aamiiin.

  9. astaga, semoga almarhumah diterima di sisiNya dan dosanya diampuni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *