Home / TRAVELING / JAVA ISLAND / Cangkuang, Perjalanan Rindu ke Artefak 2 Agama

Cangkuang, Perjalanan Rindu ke Artefak 2 Agama

SERI SWISS VAN JAVA — #3

Perjalanan ke Cangkuang Garut adalah bagian dari “perjalanan rindu” saya. Rindu pada tanah yang membesarkan dan rindu pada tempat bermain di waktu kecil. Dalam perjalanan ini bahkan terselip rasa bangga. Bangga menjadi keturunan langsung dari Eyang Embah Dalem Arif Muhammad (leluhur Cangkuang) dari anak perempuannya yang nomor lima.

Banyak sudah tulisan tentang Candi Cangkuang dan Kampung Pulo yang berada di Kabupaten Garut Jawa Barat. Berbagai tulisan yang mengulas tentang keindahan, keunikan, sejarah, dan legendanya telah dituangkan dalam lembar – lembar kertas serta halaman-halaman digital sejak zaman dulu.

Namun kerinduan, rasa syukur, dan bangga adalah salah satu alasan saya untuk menambahkan tulisan tentangnya. Tulisan yang berusaha menyelip dan berteriak sambil menyubit di antara tumpukan data-data di dunia maya.


PERJALANAN DINI HARI

Saya berangkat bersama rombongan komunitas yang punya hobi dan kegilaan yang sama. Karena ingin mempergunakan waktu semaksimal mungkin, akhirnya kami memutuskan untuk berangkat sekitar jam 01.00 WIB. Kami berencana tidur di mobil ELF dan tiba di Candi Cangkuang sekitar jam 06.00 WIB.

(Untuk menuju lokasi, bisa menggunakan peta di atas)

Setelah sempat berhenti untuk “subuhan” dan menikmati beberapa bakwan dan segelas teh manis, akhirnya kami tiba di Kecamatan Leles –sekitar 18 km dari kota Garut– tempat Candi Cangkuang berada. Kalau kita dari Jakarta, lebih enak via tol Cipularang terus ambil jalan ke arah Garut. Setelah tiba di persimpangan Nagrek ambil jalan yang ke kanan. Enggak berapa lama kita akan tiba di Alun-Alus Leles. Tidak jauh dari alun-alun, belok ke jalan yang berada di sebelah kiri. Ada papan petunjuknya kok, jadi enggak usah khawatir nyasar, apalagi banyak orang yang bisa ditanyain. Uhuyy….

Sekitar jam 05.30 WIB kami sudah tiba di lokasi. Tersedia parkiran yang cukup luas, muat untuk banyak mobil bus. Ini bukti kalau tempat ini adalah salah satu tempat wisata andalan kota Garut. Rombongan pun sebagian turun, meregangkan otot badan dan melemaskan otot kaki yang tertekuk lima jam lebih. Sebagian lagi masih malas-malasan di tempat duduk, memilih diteriakin untuk cepat turun. Kids zaman Now!

Bersama rombongan dari Backpacker Jakarta

Setelah bergegas antri memenuhi “panggilan” ke kamar kecil dan mempersiapkan barang seperlunya –kecuali kamera yang enggak usah disuruh lagi untuk disiapkan– maka kami pun segera menuju tembok penanda bertuliskan “Wisata Alam dan Budaya Candi Cangkuang”. Puas berfoto, kamipun membeli tiket dan segera masuk sebagai pengunjung pertama.


SITU CANGKUANG DI PAGI HARI

Situ adalah kata dalam bahasa Sunda yang berarti Danau. Perjalanan menuju Candi Cangkuang adalah perjalanan menuju candi yang terletak di tengah Danau yang luasnya sekitar 16,5 hektar. Di sebuah pulau yang di dalamnya juga terdapat pula sebuah kampung adat yang bernama Kampung Pulo.

Candi Cangkuang berada di pulau yang bernama Pulau Panjang. Selain Pulau Panjang, dahulu terdapat juga dua pulau kecil di danau itu. Sayang sekali, gulma Eceng Gondok menyembabkan terjadinya pendangkalan, sehingga danau mengecil dan dua pulau tadi menyatu dengan daratan lain.

Permainan warna dan kamera di pagi hari di Situ Cangkuang

Keputusan untuk tiba di Cangkuang pada pagi hari, adalah keputusan yang sangat tepat. Cuaca yang cerah, kabut embun tipis yang bermain di atas air, dan air danau yang tenang, benar-benar menghadirkan beragam lukisan tentang keindahan tanah sunda.

Sudut lain Situ Cangkuang dengan latar gunung Guntur di kejauhan

Kita dapat melihat sekeliling danau dengan jelas sejauh mata memandang. Tak ada silau sengatan matahari yang menghalangi pandangan mata. Danau Cangkuang yang terletak di sebuah lembah yang subur ini, benar-benar menjadi objek indah yang dikeliligi oleh beberapa gunung besar di Jawa Barat. Selain Gunung Guntur, Cangkuang dikelilingi juga oleh Gunung Malang, Gunung Mandalawangi, dan Gunung Kaledong.


RAKIT DAN KAMI

Karena berada di tengah danau, maka kami harus menggunakan rakit bambu. Rakit panjang dan lebar tersebut bisa memuat sekitar 20 orang. Karena masih pagi dan kami adalah pengunjung pertama, maka semua rakit masih berjajar rapi dengan ujung menghadap ke pulau.

Ada lebih dari sepuluh rakit yang berjajar siap mengantar pengunjung ke seberang.

Jarak untuk menuju ke pulau tidak jauh, hanya sekitar 200 meter. Sebelum berangkat, para peserta rombongan tampak sibuk memanfaatkan pemandangan danau dengan rakit sebagai propertinya. Dengan beragam jenis gaya, mereka beraksi di depan kamera.

Sesi foto sebelum menyeberang.

Rakit ini jalan dengan didorong oleh tukang rakitnya dengan menggunakan kayu yang ditancapkan ke dasar danau. Dan saya pun langsung ambil ancang-ancang, bergaya di depan kamera dengan menggunakan alat pendorong abang tukang rakitnya.

Ah.. tampaknya saya mulai cocok dengan pekerjaan ini.. hehehehe

Kita akan mendapatkan sensasi yang luar biasa saat menyeberangi danau. Angin sepoi-sepoi, suara air yang tenang, dan suguhan pemandangan alam yang dikelilingi gunung akan membuat kita terbuai dalam kenikmatan psikologis. Jika beruntung, kita bisa ditemani pengamen yang bersenandung saat menyeberang, seperti yang pernah saya dapati saat terakhir ke sini dulu. Pengamen di sini sopan-sopan, tidak akan mengusik ketentraman kita, tetapi justru menambah hangat perjalanan kita.

Waktu yang diperlukan untuk menyeberang adalah sekitar 10 menit. Dan di sepanjang jalan, diisi dengan foto-foto. Aaah.. mereka seperti para model yang sedang melakukan pemotrean di danau ini.


KAMPUNG PULO

Setelah tiba dan turun dari rakit, ikuti saja satu-satunya jalan setapak yang ada di sana. Disepanjang jalan terdapat lapak para pedagang kerajinan khas Sunda dan daerah setempat. Karena kita tiba pagi maka belum ada lapak yang buka, jadi perjalanan bisa sedikit lebih cepat (Baca : Enggak tergoda berhenti belanja beli ini itu).

Di tengah jalan secara kebetulan saya mendapatkan orang yang benar-benar berkompeten untuk menjadi Guide. Sewaktu membeli tiket, sebenarnya saya sudah meminta jasa Guide, tapi jawaban dari penjaganya Guide-nya belum ada. Saat itu kami masuk pukul 06.00 WIB, satu jam sebelum loket buka. Namun karena saya lihat petugasnya sudah datang, maka saya minta untuk masuk duluan karena masih banyak tujuan yang lain. Alhamdulilah, ternyata dikasih.

Untuk mencapai Candi Cangkuang kita harus melewati Kampung Pulo terlebih dahulu. Ini kampung keren banget. Dan pastinya… kami pun foto-foto di sini.

Lebih lanjut tentang Kampung Pulo baca di :
Kampung Pulo Garut, Hadiah Eyang untuk Kota Intan


CANDI CANGKUANG, SEJARAH DAN PESONANYA

Menuju komplek candi. Di sebelang kanannya terdapat Museum Situs Cangkuang

Setelah keluar dari Kampung Pulo, maka kita akan langsung memasukin komplek Candi dan Makam Keramat Eyang Embah Dalem Arif Muhammad. Ada sekitar 50 anak tangga yang harus kita lewati untuk pada akhirnya kita akan tiba di Museum Situs Cangkuang, yang di depannya terletak komplek Makam dan Candi Cangkuang.

Penjelasan lengkap dari Guide/Petugas Museum

Di museum, selain menerima pengarahan, banyak sekali informasi yang berhubungan dengan Kampung Pulo dan Candi Cangkuang yang diberikan oleh Guide yang mengantarkan kami tadi. Semuanya menarik dan menjadi sumber utama tulisan saya berikutnya di blog ini.

Pohon Cangkuang

Berdasarkan informasi tersebut, nama Candi Cangkuang diambil dari nama desa tempat candi ini berada. Sedang kata ‘Cangkuang’ sendiri berasal dari nama tanaman sejenis pandan yang banyak terdapat di sekitar makam Eyang Embah Dalem Arief Muhammad. Daun ini biasanya dimanfaatkan oleh penduduk untuk membuat tikar, pembungkus, dan kerajinan lain.


Sejarah Candi Cangkuang

Hampir bisa dipastikan bahwa candi  ini merupakan peninggalan agama Hindu (kira-kira abad ke-8 M, satu zaman dengan candi-candi di situs Batujaya dan Cibuaya). Hal ini dilihat dari tingkat kelapukan batunya, serta bentuknya yang sederhana tanpa relief. Hanya saja yang mengherankan, di sampingnya ada pemakaman Islam. Makam Islam kuno tersebut adalah makam Eyang Embah Dalem Arief Muhammad, yang oleh penduduk setempat dianggap sebagai leluhur mereka.

Letak makam yang hanya berjarak 3 meter di samping candi

Sekitar tahun 1966, sekelompok peneliti menemukan adanya batu-batu andesit berbentuk balok sisa reruntuhan sebuah bangunan candi, di samping makam kuno tersebut. Di tengahnya terdapat sebuah patung Syiwa yang sudah rusak. Terdapat pula serpihan pisau dan batu-batu besar yang diduga adalah peninggalan Zaman Megalitikum. Penelitian sendiri dilakukan berdasarkan laporan dari seorang warga Belanda yang dibukukan tahu 1893. Melihat sisa batu tersebut Tim peneliti yakin di sekitar tempat temuan tersebut terdapat sebuah candi.

Contoh batu sisa reruntuhan candi yang disimpan di Museum Situs Cangkuang

Maka pada tahun 1967 dilakukanlah penggalian di dekat kuburan tersebut dan ditemukanlah fondasi candinya beserta sekitar 40%  batuan dari bangunan candi yang ada. Setelah dilakukan rekonstruksi, tahun 1974 proses pemugaran candi dimulai.

Candi Cangkuang adalah candi pertama yang di pugar di Indonesia.

Semua benda sejarah yang di temukan di daerah Cangkuang di simpan di Museum Situs Cangkuang yang berbentuk joglo. Selain itu disimpan juga semua benda peninggalan Eyang Embah Dalem Arif Muhammad, seperti naskah-naskah dan Al Quran dari abad 17 M yang di tulis di atas kertas Daluang serta semua dokumentasi tentang pemugaran Candi Cangkuang.

Bahan dan alat membuat kertas tradisional Daluang (difoto dari koleksi pameran Perpustakaan Nasional)

Ada yang sangat menarik selain cerita sejarahnya. Kami semua diajarkan cara membuat kertas tradisional Daluang. Kertas ini dibuat manual dari kulit pohon Saeh (Deluang). Proses pembuatannya dengan cara memipihkan kulitnya setipis mungking, direndam dalam air, kemudian dipipihkan lagi sampai keluar getahnya, kemudiang digiling dengan kayu bulat panjang agar mulus dan rata.
Keren banget nenek moyang saya, eh… kita.


Pesona Candi Cangkuang

Sebelum Eyang Embah Dalem Arif Muhammad datang untuk menyebarkan agama Islam, agama Hindu adalah agama yang lebih dahulu dianut oleh masyarakat yang tinggal di Cangkuang. Salah satu peninggalannya adalah satu buah bangunan candi dan satu buah patung Dewa Syiwa.

Nah, seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, meskipun cuma ditemukan 40% saja bagian dari bangunan candinya, pada akhirnya candi berhasil selesai dipugar dan diresmikan pada tahun 1978. Meski telah selesai dipugar dan diresmikan, akan tetapi bentuk sebenarnya dari Candi Cangkuang belum diketahui.

Candi Cangkuang dari arah Utara

Bagian pertama dari candi ini adalah sebuah dasar persegi empat yang tidak terlalu luas (4,7 m x 4,7 m) dengan tinggi 30 cm. Bagian dasar ini adalah bagian yang menyangga bagian kedua dari candi. Yaitu pelipit padma, pelipit kumuda, dan pelipit pasagi yang ukurannya 4,5 m x 4,5 m dengan tinggi 1,37 m. Di bagian timurnya terdapat penampil tempat tangga naik yang panjangnya 1,5 m dan lebarnya 1,26 m.

Bagian ketiga, adalah tubuh bangunan candi. Bentuknya persegi empat (4,22 m x 4,22 m) dan tingginya 2,49 m. Di bagian Utaranya merupakan pintu masuk yang ukurannya tinggi 1,56 m dan lebar 0,6 m.

Puncak candi ada dua tingkat; 1. persegi panjang ukuran 3,8 m x 3,8 m dan tingg 1,56 m, 2. persegi panjang berukuran 2,74 m x 2,74 m yang tingginya 1,1 m.

Di dalam candi terdapat ruangan yang berukuran 2,18 m x 2,24 m yang tingginya 2,25 m. Sedangkan di dasar candi terdapat cekungan berukuran 0,4 m x 0,4 m yang dalamnya sekitar 7 m.

Patung Dewa Syiwa yang diletakkan di dalam candi

Patung yang ditemukan bersamaan dengan puing-puing sisa bangunan candi tersebut, diletakkan di dalam candi. Posisi patung duduk bersila di atas padmasana ganda. Kaki kiri posisinya menyilang datar dan alasnya mengarah ke sebelah dalam paha kanan. Sedangkan kaki kanan menjejak ke bawah dan beralaskan lapik. Di depan kanan kiri terdapan kepala sapi (nandi) dengan telinga mengarah ke depan. Keberadaan kepala nandi inilah yang membuat para ahli menyimpulkan bahwa patung ini adalah patung Dewa Syiwa. Kedua tangan patung ini terbuka di atas paha. Pada tubuhnya terdapat penghias perut, penghias dada, dan penghias telinga.

Kondisi patung Dewa Syiwa sudah rusak. Wajahnya datar, bagian tangan hingga kedua pergelangan tangannya sudah hilang. Lebar wajah 8 cm, lebar pundak 18 cm, lebar pinggang 9 cm, padmasana 38 cm (tingginya 14 cm), lapik 37 cm & 45 cm (tinggi 6 cm dan 19 cm), tinggi 41 cm.

At The End

Mengunjungi situs Candi Cangkuang adalah sebuah kunjungan yang akan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman budaya yang baru.

Di tempat inilah kita bisa melihat artefak peninggalan dua agama; Islam dan Hindu. Peninggalan Hindu berupa bangunan candi dan patung Syiwa dari abad ke-8, peninggalan Islam adalah makam Eyang Embah Dalem Arif Muhammad.


INFO PENTING

Berikut ini beberapa info penting untuk bisa datang ke Cangkuang.

Bus Umum : Rp. 50.000,- s.d Rp, 55.000,-
Delman dari alun-alun Leles ke lokasi : Rp. 10.000,- s.d Rp. 15.000,-
Ojek dari alun-alun Leles ke lokasi : Rp. 10.000,- s.d Rp. 15.000,-
Tiket masuk lokasi : Rp. 5.000,-
Rakit Danau Cangkuang : RP. 10.000,-

Tempat wisata buka mulai puku; 07.00 WIB s.d 17.00 WIB.
Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi atau sore hari.

SERI SWISS VAN JAVA :
Seri ini adalah seri yang bercerita tentang pesona yang dimiliki oleh Kabupaten Garut yang dikenal sebagai SWISS VAN JAVA – Swiss-nya Jawa – saking indah dan sejuknya.

Baca juga :
Seri Swiss Van Java — #1
Seri Swiss Van Java — #2
Seri Swiss Van Java — #4

About Eka Siregar

Halo.. panggil Bang Eka aja ya.. pada dasarnya saya senang jalan-jalan, makan dan mengerjakan atau mencoba hal-hal baru. Nah, di sini saya coba bagi ke teman-teman apa-apa yang telah saya lihat, dengar, dan rasakan sendiri. Silahkan dibaca-baca ya..

Check Also

Parang Gombong

Parang Gombong, Pertama Kali Datang Langsung Kesal eh Menyesal? (1)

Tulisan tentang Parang Gombong ini ada Kuis Berhadiahnya. Pertanyaan ada di akhir tulisan. ~~~~~~ Pernahkah …

Kawah Ijen Banyuwangi

Kawah Ijen Banyuwangi, Pesona dan Jalurnya, Menggoda si Gendut

Bagi para pencinta alam, Kawah Ijen Banyuwangi adalah nama tempat yang tak asing lagi di …

68 comments

  1. Woaaa asyik banget bang, apalagi naik rakit bambunya.
    Pernah lihat rakit Kaya gitu di Bendungan Pamarayan Lama & Baru

  2. Wah bang Eka, keren tulisannya.
    Sejarah cangkuang luar biasa ya, jadi pengen ke sana juga saya suatu hari nanti.

  3. Jadiin tour BOB maulaah..based on blognya Babang..fotonya keren2 abiss..

  4. Mantap, kuylah…

  5. kegilaan yang sama itu yang seperti apa ya mas?

    ajak-ajaklah kalau gila jalan-jalan itu.

  6. Wah keren bang eka tulisannya dan foto2nya, saya jadi kepengen juga ksana suatu hari nanti.
    Luar biasa ya ternyata sejarahnya candi Cangkuang.
    Thx so much bang eka infonya.

  7. Tobus P Nainggolan

    Keren kali dongan awak ni…..

  8. Naik rakit di sana sepertinya menarik nih. Walaupun cuma berjarak 200 meter, pasti berkesan banget.

  9. Bamlng Eka pas banget jadi duta wisata Garut nih. Terimakasih untuk tulisannya yang informatif pisan.

  10. Informasi nya komplit plit…benar benar racun..
    Bisa jadi bahan referensi kalau mau ke Garut, kebetulan memang ada rencana kesana kekampung halaman kakek..
    2 jempol deh

  11. Kirain kampung pulo yg di Jaktim yg suka kebsnjiran itu…haha

  12. Seru banged trip nyaaa…. kalo trip rame rame selalu menyenangkan. Aku belum pernah ke situ Cingkuang juga Candi Cingkuang itu boleh nih masuk trip list deh. Thanks banged kakak buat Info nya yang detail

  13. otw sana.. ada festival bentar lagi

  14. Bagus Candi Cangkuang ini, meski agak mengherankan juga karena dari segi kenampakan justru mirip banget dengan candi-candi di Jawa Tengah. Seingat saya dulu pernah ada perdebatan soal pemugarannya terkait dengan hal itu. Terlepas dari polemik itu, saya tetap penasaran dengan candi ini dan keberadaan makam leluhur di sampingnya. Apalagi di dalam candi ini juga ada arca yang sepertinya berukuran tidak terlalu besar. Mudah-mudahan bisa saya kunjungi dalam waktu dekat, hehe.

  15. watermark di fotonya lengka, menginspirasi aku. Pemandangannya juga bagus sekali Oh iya Bang, untuk kata sekitar sebaiknya memakai kata “sekira”. Semangat …!

  16. Wah di satu tempat bisa eksplor bbrp hal sekaligus, ya danau, ya museum, ya candi. Berarti ini di Garut ya mas?
    TFS infonya. Lengkap banget sama share2 biaya jg hehe 😀

  17. Adaa akuuuu hahaha. Senang bgt.

  18. wah candi Cangkuang bagus yak… aku belom pernah ke sana, wah boleh nih kalo main ke Garut mengunjungi candi ini

  19. Asli aku baru tau tentang Cangkuang ini. *ke mana aja* Makasi udah share infonya, siapa tau suatu hari nanti aku bisa ke sana. 🙂

  20. Duh, udah jadi member BPJ tapi belum pernah ikut jalan2 kyak Bang Eka..ngiri mode on hahaha

  21. Aku selalu penasaran dengan hal2 begini.. Gimana caranya para ahli bisa tau ya atopun mereka2 bentuk dari candinya hanya dr peninggalan begitu. Hebat sih 🙂 .. Seandainya aja bisa balik ke zaman dahulu kala, dan melihat bentuk asli candinya seperti apa 😀

  22. Ayah sudah pernah berkunjung ke tempat ini namun gagal membuat foto-foto secantik Mas Eka. Iya situs Cangkuang bergelimang cerita ntah cantik dan mistiknya menjadi satu. Itu yang membuat situs ini harus dikunjungi oleh para Traveller

  23. waaaah bener harus pagi ya ke sana, bagus2 banget foto2nya

  24. Itu jepretan di danau kok cantik banget seehhhh? Warnanya keren pisan.

  25. Wah udah lama gak ke Situ Cangkuang. Terima kasih udah nulis ini. Kayak nostalgia dulu pernah tinggal di Garut. Mungkin nanti mau ke Situ Cangkuang lagi

  26. Wah, ada aitu Cangkuang ya di Garut dan di tengahnya ada candi. Saya taunya cuma Situ Bagendit. Suatu saat pasti saya ke sana karena gk begitu jauh dari Jakarta 🙂

  27. Ini namanya wisata alam dan heritage menjadi satu.
    Pemandangannya indah, informasi tentang heritage dapat. Cocok banget hahahahhaha

  28. Itu foto2 pada kece abis, bang. Mana belom pernah kesana pula ejie. Ajakin atuhlah..

  29. Mempesona sekali pemandangan paginya..apa ada yg ngejaring atau mancing ikan tengah danau.

  30. Wah..terimakasih kasih bang Eka tulisannya informatif sekali terutama bagi saya yang sama sekali belum pernah ke Garut.

  31. keren bgt infonya. Aku tandain nih, pengen kesana suatu saat kl lg mudik ke bekasi. Semoga 🙂 pengen ngrasain naik rakit dan menjelajah kampungnya 😉

  32. kece tempatnya, saya suka wisata berbau air. hawanya langsung adem.. baru tau kalo garus itu swiss van java

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *