Cermin Tentang Papa (2) : TERBAIK TERBURUK

CERMIN (Cerita Mini)
Cerita ini semata-mata hanya fiksi belaka

Sebelumnya :
Cerita Tentang Papa (1) – PENGECUT

(2)

Ahhh…. Kepala ini berat sekali rasanya… antara berat atau memang enggak bisa bergerak. Tiba-tiba terbangun dengan bau menyengat di sana-sini, kepala yang tak tentu rasanya dan mulai mendenyut, membuatku sedikit merasa panik dalam ketidakberdayaan.

Instingku bergerak untuk mencari tahu. Perlahan-lahan kubuka kelopak mata…. Tapi… ahhh kenapa susah juga?!

Jantungku berdegup kencang, aku benar-benar mulai panik, terlebih lagi aku mulai sadar kalau akupun tidak bisa menggerakkan semua jemariku. Ternyata enggak hanya kepala dan mata yang bermasalah, badanku pun terasa lemas sekali.

“Dammnn… di mana ini?!” Rungutku dalam hati, mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi, namun sia-sia.

Dengan sekuat tenaga kucoba untuk membuka kelopak mata. Aku terkejut, sinar putih masuk seketika dan menusuk kedua mataku. Silaunya tak tertahankan. Sialnya, bahkan untuk meringis pun aku enggak sanggup menggerakkan bibirku.

*****

Hari di mana aku mendengarkan cerita Mama tentang Papa yang penjudi, benar-benar hari yang membuatku kacau. Bahkan sangat kacau. Otakku belum mampu mencerna dan menjalin sebuah hubungan sebab akibat, memberikan sebuah pemakluman, apalagi memanipulasi sebuah prasangka.

Otakku hanya bisa berpikir tentang Papa yang jahat, Papa yang pengecut. Papa yang sudah bikin Mama sedih sekali — bahkan tidak pernah aku melihat Mama sesedih tadi —  dan melakukan hal-hal yang aku tahu itu tidak benar. Papa yang tega meninggalkan kami selama hampir satu minggu ini, dan Mama bilang Papa sedang dalam perjalanan kerja.

Aku enggan untuk menemui Mama di luar. Entah kenapa, antara tidak mau melihat Mama yang lagi sedih atau mungkin karena takut membuat Mama jadi tambah bersedih.

Kalaupun aku ingin melihatnya — menatap lama wajahnya — ini aku lakukan diam-diam di malam hari, saat dia terlelap, sambil mencoba mengusap rambutnya menenangkan. Namun tak pernah berhasil, karena air mata ini berderai dan dadaku sesak menggetarkan tanganku.

Alhasil aku lebih banyak hanya terdiam di kamar, di atas tempat tidur. Sesekali pandanganku bermain di kumpulan lukisan karyaku yang kutempel di dinding.

Tepat saat mataku tertuju ke lukisan pemandangan pertamaku, tatapanku terhenti di sana. Lukisan pemandangan dengan dua buah gunung dan sebuah jalan yang keluar dari tengahnya, yang semakin melebar di bagian bawahnya. Sebuah lukisan yang selalu dilukis oleh anak kecil yang baru pertama kali belajar melukis.

Papa yang pertama kali mengajarkanku menggambar pemandangan itu.

Tuhaaannn… di sisi lain di hatiku, aku tidak bisa membenci Papa.

Papa yang lucu, yang selalu bermain dengan kami. Papa yang pintar dan bahkan dianggap jenius oleh teman-temanku. Papa yang sebenarnya lebih suka menjagaku saat aku sakit. Banyak sekali yang aku pelajari dari Papa. Lantas sekarang… kenapa semuanya jadi berubah membingungkan begini?

Aku pun beranjak ke jendela, memandangi jalanan, berharap Papa muncul dari kejauhan. Namun yang terjadi aku malah menangis karena bingung. Bergeser sedikit dan terduduk di pojok kamar, tangisku semakin menjadi-jadi. Ada Mama yang kusayang sedang sedih, ada Papa yang kukagumi sedang melakoni tokoh jahat dalam kehidupan kami.

Aku terbangun oleh bunyi jangkrik yang sedang ramai di musim hujan ini. Tanpa sadar aku tertidur sampai Magrib. Sepertinya Mama yang memindahkanku ke atas tempat tidur. Dari jendela yang belum tertutup, kulihat di luar sudah mulai gelap. Adek — panggilan untuk Yana adikku no. 2 — sudah tidak ada di tempat tidur. Aku bergegas ingin segera menutup jendela. Baru saja kakiku menjejakkan telapaknya di ubin, aku terdiam. Yang akan kulakukan ini adalah kelakuan Papa yang diturunkan kepadaku.

Ucapan aneh ini pernah dia ucapkan saat sore tiba, “Bang, jangan lupa kau tutup jendela sebelum malam, banyak angin dan hal buruk yang akan masuk ke kamar kau nanti. Ya… minimal angin malam itu kotor, udah banyak debu sama asap knalpot yang terkumpul, mau kau racuni adek kau nanti sama udara kotor itu?”

Ya… begitulah, Papa selalu penuh dengan logika, bahkan saat menakut-nakuti kami.

Semua selalu berkaitan dengan Papa. Wajar memang, Papa kepala keluarga. Banyak sekali tugas kepala keluarga yang memang harus dia kerjakan, dan pastinya selalu berhubungan dengan kami, anak-anaknya. Namun Papa kami ini istimewa sekali, bahkan banyak teman kami yang iri karena mereka tidak mendapatkan apa yang Papa kami lakukan kepada kami.

Dia yang mengajarkan kami membaca di usia 5 tahun. Dia yang mengajarkan kami berhitung kali-kalian sebelum masuk SD, dia yang ajarkan kami bagaimana menghitung perkalian yang berangka lima dan sebelas di luar kepala, tanpa bantu alat hitung. Papa juga yang mengajarkan kami membuat banyak mainan dari peralatan yang ada di sekitar rumah kami. Nah… Papa mana yang bisa sekeren itu?

Tanpa sadar aku sudah di depan jendela. Pandangan mataku ku sapu ke sekitar halaman samping rumah, kami baru saja membuat sepeda dari kayu dan ban bekas, seingatku seharusnya ada di samping kandang ayam di bawah pohon belimbing. Bisakah kalian membayangkan sepeda terbuat dari kayu? Itu baru saja kami buat berdua, 2 minggu yang lalu.

Belum kudapatkan sepeda itu, tiba-tiba aku mendengar suara Mama, “Bang, besok Mama ikut Abang ke sekolah ya… Mama mau jumpa Kepala Sekolah, mau membicarakan kepindahan sekolah, Abang.”

“Pindah, Mah?”  Aku bertanya karena aku enggak tahu kenapa mesti tiba-tiba pindah.

“Iya, Bang, tadi Mama bicara sama Bujing Mainun, kata Bujing kita disuruh opung pindah ke Medan dalam beberapa hari ini.”

Aku enggak berani bertanya lagi ke Mama. Banyak dugaan, tapi ah… sudahlah… aku bukan tipe anak manja dan memang tidak punya otoritas untuk menolak. Apalagi saat itu Mama sedang sangat sedih, bagaimana mungkin aku membantahnya.

Kalau aku jadi pindah, ini artinya, aku sudah pindah sebanyak 4 kali dalam hidupku di usia 8 tahun. Pertama kali kami pindah, yaitu waktu aku masih di Taman Kanak-Kanak, kami pindah dari rumah Opung ke rumah sendiri. Berikutnya yang kedua, kami pindah lagi ke rumah Opung saat aku masuk SD. Yang ketiga kami pindah ke rumah kami yang sekarang, dan yang ke empat adalah saat nanti pindah kembali ke rumah Opung.

Aku mulai berpikir, kenapa kami sering berpindah-pindah rumah. Apakah benar karena kerja Papa sebagai kotraktor, atau seperti yang aku dengar di sebuah percetakan, atau yang lain lagi? Aku enggak pernah tahu, tapi aku mulai curiga pada satu hal.

“Bang…” Tiba-tiba suara Mama yang masih ada di hadapanku mengejutkanku. “Abang makan dulu ya, sesudah itu baru belajar, tapi jangan sampe terlalu malam.” Lantas Mama pergi meninggalkan aku yang langsung menutup jendela kamar.

Babak baru akhirnya akan ku alami lagi. Sekolah baru. Meski pernah tinggal di rumah Opung sebelumnya, tapi aku enggak terlalu yakin apakah aku bisa hidup seperti layaknya di rumah sendiri.

Papa. Terima kasih. Kau buat kami repot lagi. Kau contoh sempurna dari sebuah kebaikan dan keburukan. Kupandangi lamat-lamat bulan yang tak tampak indah lagi di mataku, padahal aku suka purnamanya.

*****

Aku tercenung.

Silau yang membuatku menutup mata rapat-rapat, menghantarkanku ke lamunan tentang Papa, yang kemarin sempat kutulis sedikit sebelum akhirnya aku….

Ahhhhh… rasa perih di tangan dan lamunan tadi itu, telah mengembalikan ingatanku. Namun aku belum bisa melihat apapun. Apakah ini berarti…?

Yah…. Sepertinya sang cutter berhasil. Berarti aku enggak perlu lagi berurusan dengan apa-apa yang membuatku menyesal berkepanjangan seumur hidupku. Akhirnya aku bebas juga.

Meski susah… aku berusaha menyeringai, meski seringai di bibirku ini tak bisa dikatakan  sebagai seringai senang atau pun menyesal.

Eka Siregar

Halo.. panggil Bang Eka aja ya.. pada dasarnya saya senang jalan-jalan, makan dan mengerjakan atau mencoba hal-hal baru. Nah, di sini saya coba bagi ke teman-teman apa-apa yang telah saya lihat, dengar, dan rasakan sendiri. Silahkan dibaca-baca ya..

42 Comments

  1. Akhirnya yang ditunggu2 cerita part 2 tayang juga.pas baca part 1 kebawa suasana sebel sama sifat papahnya tapi di part 2 Ga nyangka ternyata sosok papa nya hebat juga dan perhatian juga sama anak2nya.

  2. Hummm sudut pandang papa dari seorang anak laki laki yang akan menjadi papa dimasa depan. Dikenyataan pasti ada yang sedang merasakan seperti ini. Ditunggu cerita selanjutnya bang

  3. Once in a lifetime, a kid will remind his/her father as a superhero, then there will come a day this superhero turns to be the worst enemy. But in the end, blood is thicker than water. Feel ceritanya dapet banget, Bang Eka. Bikin saya keinget Bapake.

  4. Seburuk buruk nya perilaku orang tua pasti ada sisi baik yang tidak bisa dilupakan seorang anak. Tinggal si anak kebingungan antara benci dan sayang..loh kok malah kaya judul lagu ?
    Cerita yang menarik.

  5. … Sepertinya cutter itu berhasil. Ah ini sarat makna. Sebuah tulisan yang membawa pembacanya merenung terbaik terburuk tentang sosok ‘papa’. Seperti suatu klimaks atau anti klimaks yang ditangguhkan …. Baiklah bang, ditunggu cerita selanjutnya.

  6. Baca tulisan abang jadi inget lagunya Demi Lovato – Father, lagu tentang bapaknya yang ninggalin dia dan juga kasih contoh buruk buat dia. Tapi saya rasa setiap manusia memang punya dua hal tersebut terbaik dan terburuk bahkan mungkin di saat bersamaan ya. Perasaan setelah baca tulisan ini sama seperti perasaan setelah dengar lagu Demi Lovato, perasaan semangat dan berapi api untuk bisa jadi orang tua yang dibangakan untuk anak anak kelak.

    Saya liat comment di atas akan Ada lanjutannya yaa bang? Ditunggu yaa bang, atau sekalian aja atuh keluarin version bukunya biar bacanya sekaligus sampe habis, enggak pake bersambung ???

  7. Aku jadi mbayangin papaku kalau sudah tua nanti…Umur sekitar 80an tahun sedang tiduran sudah lemah dan seperti sewaktu2 dipanggil rasanya sangat tidak ingin ditinggalkan dan meninggalkan

  8. Cerita ini terinspirasi dari siapa, bang? Penasaran hehe. Teman kecil dulu ada yg kayak begini cerita keluarganya.
    Keliatan kalo sudah sering nulis cerpen nih bang Eka. Keren.

  9. Terima kasih ceritanya bang. Menarik krn ditulis dengan runut dan mudah dicerna. Lebih menarik lg krn ini kisah nyata ya.. Di part 2 terlihat sifat manusia tidak hitam putih. Tp abu2.Gak ada yg mutlak jelek semua, atau baik semua

  10. Tadinya pas baca part 1nya langsung ngga suka sama papanya, eh pas baca part 2nya jadi galau lagi apalagi pas bagian kenangan manis sama papanya. Jadi bertanya-tanya kenapa papanya jadi berubah kayak gitu?.

  11. Ah makin penasaran sama kelanjutannya.. mau benci sama papa tapi papa ngasih banyak memori kebaikan.. kalo di memori anak kayaknya papa baik.. jadi apakah yang membuat papa berubah? Heeem ???

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close