Home / STORY / Cerpen (Cerita Pendek) / Cerita Tentang Papa : You Are Nothing

Cerita Tentang Papa : You Are Nothing

Sebelumnya :
Cerita Tentang Papa : Contoh Sempurna Baik dan Buruk

30 Cerita tentang Papa (3)

Entah kenapa, tiba-tiba aku pesan satu cangkir es kopi di warung kopi ini. Biasanya, meskipun aku tahu ini tempat adalah tempat orang menikmati berbagai macam jenis kopi, tapi aku lebih memilih menu teh yang hanya tersedia beberapa menu saja. Teh ini pun mungkin disiapkan oleh si pemilik warungnya hanya untuk beberapa pelanggannya yang tidak terlalu menyukai kopi tapi ingin menemani temannya yang ingin meminum kopi di tempat ini.

Apa karena aku sedang ingin melanjutkan tulisanku tentang Papa di tempat ini? Tapi apa hubungannya? Apa supaya ada alasan untuk berlama-lama? Ah… mungkin ini alasan yang tepat dan lagi-lagi ini memang selalu cara Papa, yang aku ingat. Berusaha untuk mencari alasan yang tepat untuk melakukan sesuatu, sehingga saat ada pertanyaan yang timbul dia sudah siap dengan jawabannya. Papa memang “sesuatu” dalam hidupku. Penuh dengan ide dan cerdik sekali.

Salah satu akal dan kecerdikan atau siasat yang aku kenang sampai saat ini, adalah strategi dia dalam mendapati Mama. Seru, unik dan lucu.

Mama bisa dibilang salah satu bintang di salah kampus terkenal di Jakarta saat itu. untuk menggambarkan seberapa bintangnya Mama, mungkin cukup dengan mengatakan, kalau Mama adalah Ratu Kebaya di kampus itu. Zaman dulu Ratu Kebaya adalah salah satu gelar bergengsi untuk kontes putri-putrian. Saat itu Mama tinggal bersama Pamannya yang pada waktu itu menjabat sebagai kepala Badan Intelejen di Indonesia.

Sedangkan Papa, hanyalah salah seorang mahasiswa perantauan dari Medan yang hanya kuliah di kampus yang biasa-biasa saja di Jakarta. Enggak ada yang spesial. Bahkan Papa punya cacat bibir sumbing yang meskipun sudah di operasi tapi masih terlihat bekasnya. Papapun hanya kost di salah satu gang sempit yang berada di dekat kampusnya.

Dilihat dari kondisi dan status sosial rasanya mustahil kalau pada akhirnya Papa bisa ketemu Mama, bahkan sampai menikahinya. Hal ini dulu pernah kutanya sama Mama, saat kami sedang bercanda bersama adik-adiknya. Nah, dari sinilah aku tahu awal mula kisah percintaan mereka, sekaligus mengetahui, betapa cerdik dan tingginya strategi Papa.

Ternyata, pada awalnya Mama berpacaran dengan adikknya Papa yang saat itu juga sedang kuliah di Jakarta. Adik papa yang biasa kami panggil Uda ini adalah salah satu pemain bulutangkis yang meskipun masih tingkat provinsi akan tetapi cukup sering dipanggil untuk bertanding dalam rangka latihan untuk para pemain nasional saat itu. Kalau kata Mama, Uda juga dulu sering dipanggil untuk dijadikan lawan tanding dalam rangka latihannya Rudi Hartono, sang Maestro bulutangkis di Indonesia.

Saking sibuknya jadi sparring partner, akhirnya Uda sering minta tolong ke Papa untuk menjemput Mama pulang dari kampusnya. Nah, di sinilah Papa mulai memainkan jurus mautnya. Papa jadi sering menjemput Mama. Kalau Mama tanya kemana Uda, selalu Papa bilang kalau Uda masih latihan. Sementara itu, Papa juga bilang ke Uda untuk santai saja latihan, karena dia bisa bantu untuk jemput Mama. Yah… ternyata kepercayaan uda itu salah. Papa menikungnya. Arghhh… ternyata kisah salip-menyalip memang sudah terjadi sejak zaman dahulu.

Singkat cerita, pada akhirnya Papa jadi berpacaran sama Mama. Entah bagaimana perasaan Uda pada saat itu, entahlah. Aku juga enggak mungkin tanya itu ke Uda dan Mama. Cukup tahu sajalah. Lagi pula ada cerita yang lebih lucu dan agak norak sih kalau kupikir-pikir… hahahaha….

Ternyata hubungan Mama dengan Papa sama sekali tidak disetujui oleh Aki, alias pamannya Mama. Entah kenapa, Papa bahkan sampai diacungin pistol karena dianggap enggak kapok-kapok waktu diusir pulang saat mengantar atau menjemput Mama. Pada akhirnya, Papa pun mengganti strateginya. Mungkin takut kalau Aki pada akhirnya benar-benar nekat menjemputnya.

Karena pada saat itu enggak ada Handphone dan untuk telepon ke rumah tidak mungkin, akhirnya Papa melakukan sesuatu yang… ahhh… hanya bisa dibayangkan di film-film saja adegannya. Saat itu kamar Mama ada di lantai dua dan kebetulan sisi kamar yang ada jendelanya menghadap ke arah gang samping rumah dan balkonnya menghadap ke jalan raya atau taman depan rumah. Nah, melalui jendela inilah Papa menjalankan triknya.

Untuk membuat janji temu atau untuk mengabarkan berita papa selalu bersiul di bawah jendela Mama, dalam hitungan tiga siulan, Mama harus sudah membuka jendela, kalau dalam tiga siulan jendela tidak terbuka, berarti Mama tidak ada di kamar atau sedang tidur. Pada saat mendengar siulan ke tiga inilah, Mama bergegas menurunkan sarang burung melalu jendela kamarnya. Kebayang enggak sih gimana konyolnya…? Hanya karena takut sedikit berteriak, Papa dan Mama memilih media sarang burung yang dikerek ke bawah untuk saling bercerita. Papa menuliskan apa yang Papa mau atau pesan tertentu — misalnya tempat ketemuan dan jamnya — mamapun tinggal menganggukkan atau menggelengkan kepala tanda setuju atau tidak.

Ahh… sebuah cerita romantis yang sangat sulit untuk dilupakan. Bagaimana mungkin mereka sampai bisa saling menyakiti pada akhirnya. Itulah yang membuatku enggak habis pikir. Papa yang hebat, kenapa bisa menjadi tidak bertanggung jawab seperti itu dulu. Kabur karena masalah judi. Kira-kira alasan pembenaran apa sampai dia melakukan itu, aku pun enggak pernah tanya. Terlalu gengsi bagiku untuk menanyakan hal itu, terlebih lagi aku sangat membencinya dulu.

Papa yang banyak akal, seketika menjadi Papa yang bodoh jika aku mengingat kondisi kami, saat harus bergegas pindah ke rumah Opung.

“Papa, bagaimana mungkin kau tidak tahu, kalau Mama sangat sedih saat itu? Harus kembali ke rumah Opung, karena ditinggal kabur oleh suaminya. Karena sudah tidak punya uang dan apa-apalagi di rumahnya sementara itu ada kami tiga orang anakmu yang harus Mama tanggung sendiri. Bagaimana mungkin kau jadi tiba-tiba bodoh dan tidak bertanggung jawab, seolah tidak bisa lagi melakukan apa-apa? Papa, you are nothing for me,” kataku lirih.

Tanpa terasa, kopi di hadapanku habis dan tak satupun kata yang berhasil aku tuliskan di laptopku ini.

Baca juga :
Cerita Tentang Papa (1) : Pengecut
Cerita Tentang Papa (2) : Contoh Sempurna Baik dan Buruk

#30DWC #30DWCJILID13 #Day7

 

 

About Eka Siregar

Halo.. panggil Bang Eka aja ya.. pada dasarnya saya senang jalan-jalan, makan dan mengerjakan atau mencoba hal-hal baru. Nah, di sini saya coba bagi ke teman-teman apa-apa yang telah saya lihat, dengar, dan rasakan sendiri. Silahkan dibaca-baca ya..

Check Also

Cerita Tentang Papa : Tiga Temurun

Sebelumnya : Cerita tentang Papa : “Ampun, Pa!” 10 Cerita tentang Papa (6) Istriku sudah …

Cerita Tentang Papa : “Ampun, Pa !”

Sebelumnya : Cerita Tentang Papa : “Kecil Kau Enggak Mau Mati” Cerita tentang Papa (5) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *