Home / STORY / Cerbung (Cerita Bersambung) / Cerita Tentang Papa : Tiga Temurun

Cerita Tentang Papa : Tiga Temurun

Sebelumnya :
Cerita tentang Papa : “Ampun, Pa!”

10 Cerita tentang Papa (6)

Istriku sudah menyiapkan air putih dan beberapa potong buah naga di meja, di samping kursi favoritku, di teras halaman belakang yang menghadap kebun bunga koleksi bunga Gardeniaku. Berbeda dengan yang lain mungkin, aku enggak suka kopi atau teh manis untuk menemani pagiku.

Sementara itu aku sedang berolahraga kecil, sekedar meregangkan otot supaya tidak terlalu kaku. Rumput di halaman terlihat basah, namun justru menampakkan warna yang menyegarkan mata. Uap panas hasil pembakaran di daun-daunnya mulai mengembun di setiap pucuknya, menampilkan hiasan lain dari rumput-rumput kebunku. Hujan pagi tadi benar-benar berkah buat semua yang ada di halaman ini.

Melihat aneka Gardenia yang tumbuh segar dan cantik di hadapanku, semua kenanganku pada rumah besar itu  menari-nari di kepalaku. Bunga ini adalah bunga yang disukai secara turun temurun tanpa sengaja mulai dari opung, papa dan aku. Semua halaman samping yang bersisian dengan gang diisi oleh tanaman bunya ini. Gardenia ini pun membawaku kembali ke cerita tentang papa.

Hari pertamaku kembali ke rumah opung, aku merasa canggung. Entah apa pembicaran antara mama dengan opung tadi malam. Aku sudah tidur, tapi bukan di Kamar Izam. Aku dan adikku, Yana tidur di kamar lain, yang memang kosong. Ada 2 kamar kosong di rumah itu yang memang di persiapkan untuk tamu.

Papa terdiri dari sebelas orang bersaudara. Dua saudara tiri dan sembilan saudara kandung. Papa anak urutan ke empat dari sebelas bersaudara tersebut. Dua orang abang laki-laki tirinya berada di Jakarta. Dari sembilang orang bersaudara kandungnya, papa anak no dua, ada empat laki-laki dan 5 orang anak perempuan semuanya. Sebuah keluarga besar memang. Dari semua itu, akulah cucu pertama opung dari istri keduanya.

Sebagai cucu opung yang pertama di Medan, tentu saja aku merasakan limpahan utama kasih sayang opung. Opung cukup terpandang di daerahnya. Selain sebagai camat, opung juga dikenal sebagai salah satu pejuang yang pernah mendapatkan penghargaan dari pemerintah.

Opung juga pendiri cetakan besar yang pertama di Sumatera Utara. Semua koran dan buku-buku yang diterbitkan Medan pun dicetak di percetakannya.

Dengan segala kemewagan yang opung punya, yang aku kagum adalah apa yang apa lakukan. Papa sama sekali tidak pernah memanfaatkan fasilitas yang ada. Papa selalu menolah semua tawaran pekerjaan opung, termasuk memimpin percetakannya. Padahal sebagai anak laki-laki “pertamanya”, dia masih berhak untuk itu. Papa malah memilih jadi pekerja biasa dipercetakan itu. Perkerjaan hanya sebatas operator alat cetak.

Aku pikir papa berpikir untuk bekerja dari bawah dulu, baru pada akhirnya dia naik jabatan pelan-pelan. Ternyata dugaanku salah. Papa hanya bekerja 2 tahun saja. Setelah itu papa membuka percetakan yang hampis sama dengan skala yang lebih kecil.

Papa yang aneh… mungkin itu tanggapan anak sekarang. Tapi itulah dia. Prinsip-prinsip yang dia terapkan pada kami. Sampai akhirnya akupun punya usaha percetakan yang sama dengan opung dan papa.

Kami begitu sama.

#30DWC #30DWCJILID13 #Day10

About Eka Siregar

Halo.. panggil Bang Eka aja ya.. pada dasarnya saya senang jalan-jalan, makan dan mengerjakan atau mencoba hal-hal baru. Nah, di sini saya coba bagi ke teman-teman apa-apa yang telah saya lihat, dengar, dan rasakan sendiri. Silahkan dibaca-baca ya..

Check Also

Cerita Tentang Papa : “Ampun, Pa !”

Sebelumnya : Cerita Tentang Papa : “Kecil Kau Enggak Mau Mati” Cerita tentang Papa (5) …

Cerita Tentang Papa : “Kecil Kau Enggak Mau Mati”

Sebelumnya : Cerita tentang Papa : You Are Nothing Tiga Puluh Cerita tentang Papa (4) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: