Home / STORY / Cerpen (Cerita Pendek) / Cerita Tentang Papa : Pengecut

Cerita Tentang Papa : Pengecut

Tiga Puluh Cerita Tentang Papa (1)

Malam ini benar-benar sepi. Ramadhan kali ini sama saja dengan Ramadhan sebelumnya. Duduk di depan TV, di ruangan tamu yang berfungsi sekaligus sebagai tempat santai di sebelah dapur. Selalu sendiri di apartemen yang sederhana ini. Sesekali angin menerobos kencang dari pintu balkon yang sengaja kubuka untuk mengundangnya meski ia bergegas pergi melalu pintu masuk yang sengaja pula kubuka.

Malam ini, ingin sekali aku bercerita tentang Papa, sosok yang sempat sangat aku jadikan penyebab atas semua penderitaan yang terjadi di keluarga kami. Sosok yang menjadi musuhku selama bertahun-tahun sejak aku kecil sampai usiaku berkepala 3 bahkan nyaris 4.

Tapi entah kenapa, di saat aku sedang ditantang untuk menuliskan sebuah rangkaian cerita yang agak panjang, malah sosok papalah yang muncul di kepalaku. Seolah semua apa yang ada dalam diriku adalah dirinya. Di otakku, di perasaanku, bahkan dalam setiap lamunan kosongku, cuma sosok dirinyalah yang terbayang.

Lantas pada akhirnya aku memutuskan untuk bercerita tentang dia, Papaku. Aku enggak tahu apa untungnya buatku atau mungkin buat orang lain. Karena seyogyanya, setiap tulisan harus ada manfaatnya. Tapi biarlah, biarlah semua cerita tentang Papa ini mengalir begitu saja lewat jari jemariku.

Satu hal yang pertama kali akan kutulis tentang Papa adalah tentang penyesalan. Penyesalan telah punya Papa seperti dia. Penyesalan yang membuatku marah, berontak dan menyebabkanku pada akhirnya menjadi anak yang tidak punya arah hidup yang jelas. Emosi naik turun, cepat bosan dan kadang bahkan seperti anak yang tidak punya semangat apa-apa.

Penyesalanku berpapakan dia, bermula dari pada saat aku melihat Mama menangis di dapur depan kamar mandi. Saat itu kami tinggal disebuah kota kecil di Sumatera Utara, sekitar 3-4 jam dari kota Medan. Aku ingat sekali, waktu itu aku masih di kelas 3 SD, sekitar 8 tahun umurku. Mungkin masih kecil, tapi sebagai anak paling tua — yang ditempa dengan keras dan selalu diajak berpikir tidak seperti anak kecil dikeluarga — aku sudah cukup tahu kalau Mama saat itu sedang sedih sekali.

Melihat aku hadir, Mama cepat-cepat masuk ke kamar mandi. Aku tetap tunggu Mama keluar. Tak berapa lama — karena mungkin menyangka aku sudah pergi — Mama keluar. Mama salah sangka, aku masih menunggu.

“Mama kenapa?” tanyaku.

“Gak papa, Bang,” katanya sambil mengusap kepala dan langsung pergi ruang tamu.

Entah kenapa, saat itu aku merasakan kesedihan yang sama seperti yang Mama rasakan. Enggak tahu kenapa. Mungkin karena beberapa kejadian yang terjadi di keluarga belakangan ini. Bukan kejadian yang menyeramkan atau menyedihkan memang, tapi tetap terasa ada yang aneh rasanya. Seperti ada sebuah rahasia besar dalam keluarga yang sedang ditutupi oleh orang tua kepada anaknya.

Aku pun bergegas ke kamar. Adekku sedang tertidur di sana. Akupun duduk di kursi meja belajar mencoba untuk belajar.

Tiba-tiba, ada tamu yang datang, aku kenal suaranya. Ya.. itu suara adik Papa yang tinggal di Medan. Aku beranjak ke pintu, kubuka sedikit daun pintunya. Kulihat Mama menangis terisak sambil sekali menghapus cairan yang mengalir dari hidungnya dengan kedua tangannya bergantian. Kemudian dia meremas kedua telapak tangannya di pangkuannya, tampak sekali berusaha tegar untuk bercerita ke adik iparnya.

“Nun… kakak gak kuat lagi, kakak bingung, kami gak punya apa-apa lagi, semua tabungan kakak hilang. Pertama celengan anak-anak yang hilang, terus celengan kakak. Kakak pun taruh beberapa lembar uang dilipatan kain kakak di lemari… dan itupun hilang. Sekarang….,” aku lihat Mama menangis lagi, suara sesegukan bahkan untuk berkata-kata lagi dia tak sanggup.

“Sabar ya kak… ada apa… ceritakan ajalah, aku ambilkan dulu minum di dapur ya.” Lalu Bujing Mainun adik Papa bergegas ke dapur, melawati kamarku, kemudia melirik ke arahku yang sedang mengintip ke arah ruang tamu. Dia diam saja, langsung mengambil air dan menyerahkannya ke Mama, sementara aku masih mengintip dari balik pintu.

“Tega kali abang kau Nun, habis digadaikannya tipi sampe gak ada lagi hiburan anak-anak, dan sekarang… bukan cuma duit di kain. Bahkan semua kain batik pemberian orang tua kakak pun udah gak ada lagi di lemari. Itu semua pemberian Mamanya kakak, Nun. Pemberian Mama kaka, waktu kakak menikah sama Abangmu….”

Kudengar Mama kembali menangis sesegukan. Bujing Mainun tampak kembali mengusap kedua bahu Mama, berusaha menenangkan. Sesekali dia menghapus air mata Mama dengan sapu tangannya.

Tanpa terasa akupun mulai ikut menangis. Jadi papa sampai sejahat itu? Jadi selama ini TV bukan sedang di servis dan celengan bukan diambil karena uangnya mau dikasih ke Opung. Jadi? Ah… aku pun mulai marah…

“Kenapa abang bisa gitu kak? Sekarang kemana si Abang?”

“Kakak gak tahu kemana abangmu, Nun. Tiga hari yang lalu ada orang datang, mau nagih hutang. Katanya hutang judi… duh… Ya Allah ya Rabbi… kakak terkejut dan sedih, Nun. Waktu Abangmu pulang dan kakak tanya, dia marah, dia bilang ini urusan laki-laki dan katanya dia mau bertanggung jawab.”

“Dia nggak ngaku kalau dia udah maen judi kak?”

“Dia langsung pergi, Nun, dan sampai sekarang dia belum pulang. Itu sebabnya kakak bingung, Nun… itu sebabnya kakak telpon kau tadi pagi, mau minta tolong sama kau, Nun,” mama mulai menangis lagi.

Di balik pintu kamar. Air mataku semakin deras. Yang aku rasakan, memang aku sedih karena Mama sedih. Tapi enggak cuma itu. Aku mulai benci papa. Aku tahu judi itu dosa dan papapu seorang penjudi yang sudah mencuri harta keluarganya sendiri dan sekarang pergi meninggalkan kami.

Pengecut. Pikirku. Vonisku.

Selanjutnya :
Cerita Tentang Papa : Contoh Sempurna Baik dan Buruk

#30DWC #30DWCJILID13 #Day5

About Eka Siregar

Halo.. panggil Bang Eka aja ya.. pada dasarnya saya senang jalan-jalan, makan dan mengerjakan atau mencoba hal-hal baru. Nah, di sini saya coba bagi ke teman-teman apa-apa yang telah saya lihat, dengar, dan rasakan sendiri. Silahkan dibaca-baca ya..

Check Also

Cerita Tentang Papa : Tiga Temurun

Sebelumnya : Cerita tentang Papa : “Ampun, Pa!” 10 Cerita tentang Papa (6) Istriku sudah …

Cerita Tentang Papa : “Ampun, Pa !”

Sebelumnya : Cerita Tentang Papa : “Kecil Kau Enggak Mau Mati” Cerita tentang Papa (5) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *