Cermin Tentang Papa (1) – PENGECUT

CERMIN (Cerita Mini)
Cerita ini semata-mata hanya fiksi belaka dan diceritakan bersambung.

(1)

Malam ini benar-benar sepi.

Lamat-lamat terdengar suara imam taraweh di masjid kampung sebelah, bermain di kupingku dan sangat tidak mengenakkan hati. Hati yang lama tidak berucap syukur dan bersujud pada-Nya, yang maha segalanya, yang membiarkanku tetap hidup sampai sekarang. Apa ini rasanya hati teriris?

Ramadhan kali ini sama saja dengan Ramadhan sebelumnya. Selalu sendiri di apartemen brengsek ini. Duduk di depan TV, di ruang tamu yangsekaligus berfungsi sebagai tempat melamun, kamar tidur dan dapur.

Sesekali angin menerobos kencang dari pintu balkon yang sengaja kubuka untuk mengundangnya, meski ia bergegas pergi melalui pintu masuk yang sengaja pula kubuka, membawa semua bau-bauan aneh yang ada.

Aroma aneh — yang sudah akrab dihidungku — dari pakaian kotor yang tergelatak sembarangan di depan pintu kamar mandi dan bergelantungan di setiap tonjolan paku di dinding, berhari-hari.Sudah jam sebelas malam, nyaris empat jam aku duduk. Aku nggak tahu, siapa nonton siapa? Aku apa TV itu. Namun yang pasti, hati ini rasanya beku sekaligus berdegup kencang. Pikiran melayang ke mana-mana.

Secangkir teh manis yang panasnya tadi membakar genggaman tanganku, bahkan sekarang nyaris jatuh, dan kosong.

Malam ini, ingin sekali aku bercerita tentang Papa, sosok yang sempat sangat aku jadikan penyebab atas semua penderitaan yang terjadi di hidupku dan keluarga kami. Sosok yang menjadi musuhku selama bertahun-tahun sejak aku kecil sampai usiaku berkepala tiga bahkan nyaris empat.

Malam ini, ingin sekali aku bercerita tentang Papa, sosok yang sempat sangat aku jadikan penyebab atas semua penderitaan yang terjadi di hidupku dan keluarga kami. Sosok yang menjadi musuhku selama bertahun-tahun sejak aku kecil sampai usiaku berkepala tiga bahkan nyaris empat.

Tapi entah kenapa. Di saat aku sedang harus menuliskan sebuah rangkaian cerita yang agak panjang, malah sosok papalah yang muncul di kepalaku. Seolah semua apa yang ada dalam diriku adalah dirinya. Di otakku, di perasaanku, bahkan dalam setiap lamunan kosongku, cuma sosok dirinyalah yang terbayang.

Lantas pada akhirnya aku memutuskan untuk bercerita tentang dia, Papaku. Aku enggak tahu apa untungnya buatku atau mungkin buat orang lain. Karena seyogyanya, setiap tulisan harus ada manfaatnya. Tapi biarlah, biarlah semua cerita tentang Papa ini mengalir begitu saja lewat jari jemariku.

Satu hal yang pertama kali akan kutulis tentang Papa adalah tentang penyesalan. Penyesalan telah punya Papa seperti dia.

Satu hal yang pertama kali akan kutulis tentang Papa adalah tentang penyesalan. Penyesalan telah punya Papa seperti dia.

Penyesalan yang membuatku marah, berontak dan menyebabkanku pada akhirnya menjadi anak yang tidak punya arah hidup yang jelas. Emosi naik turun, cepat bosan dan kadang bahkan seperti anak yang tidak punya semangat apa-apa.

Penyesalanku berpapakan dia, bermula dari saat aku melihat Mama menangis di dapur, di depan kamar mandi. Saat itu kami tinggal di sebuah kota kecil di Sumatera Utara, sekitar 3-4 jam dari kota Medan. Aku ingat sekali, waktu itu aku masih di kelas 3 SD, sekitar delapan tahun umurku. Mungkin masih kecil, tapi sebagai anak paling tua — yang ditempa dengan keras dan selalu diajak berpikir tidak seperti anak kecil di keluarga — aku sudah cukup tahu kalau Mama saat itu sedang sedih sekali.

Melihat aku hadir, Mama cepat-cepat masuk ke kamar mandi. Tak berapa lama — karena mungkin menyangka aku sudah pergi — Mama keluar. Mama salah sangka, aku masih menunggu.

“Mama kenapa?” tanyaku.

“Gak papa, Bang,” katanya sambil mengusap kepala dan langsung pergi ruang tamu.

Entah kenapa, saat itu aku merasakan kesedihan yang sama seperti yang Mama rasakan. Enggak tahu kenapa. Mungkin karena beberapa kejadian yang terjadi di keluarga belakangan ini. Bukan kejadian yang menyeramkan atau menyedihkan memang, tapi tetap terasa ada yang aneh rasanya. Seperti ada sebuah rahasia besar dalam keluarga yang sedang ditutupi oleh orang tua kepada anaknya.

Aku pun bergegas ke kamar. Ketiga adikku sedang tertidur di sana. Akupun duduk di kursi meja belajar mencoba untuk belajar.

Tiba-tiba, ada tamu yang datang, aku kenal suaranya. Ya.. itu suara adik Papa yang tinggal di Medan. Aku beranjak ke pintu, kubuka sedikit daun pintunya. Kulihat Mama menangis terisak sambil sekali menghapus cairan yang mengalir dari mata dan hidungnya dengan kedua tangannya bergantian. Kemudian dia meremas kedua telapak tangannya di pangkuannya, tampak sekali berusaha tegar untuk bercerita ke adik iparnya.

“Nun… kakak gak kuat lagi, kakak bingung, kami gak punya apa-apa lagi, semua tabungan kakak hilang. Pertama celengan anak-anak yang hilang, terus celengan kakak. Kakak pun taruh beberapa lembar uang dilipatan kain kakak di lemari… dan itupun hilang. Sekarang…,” aku lihat Mama menangis lagi, suaranya sesegukan bahkan untuk berkata-kata lagi dia tak sanggup.

“Sabar ya kak… ada apa… ceritakan ajalah, aku ambilkan dulu minum di dapur ya.” Lalu Bujing Mainun bergegas ke dapur, melawati kamarku, kemudia melirik ke arahku yang sedang mengintip ke arah ruang tamu. Dia diam saja, langsung mengambil air dan menyerahkannya ke Mama, sementara aku masih mengintip dari balik pintu.

“Tega kali abang kau Nun, habis digadaikannya tipi, sampe gak ada lagi hiburan anak-anak, dan sekarang… bukan cuma duit di kain. Bahkan semua kain batik pemberian orang tua kakak pun udah gak ada lagi di lemari. Itu semua pemberian Mamanya kakak, Nun. Pemberian Mama kakak, waktu kakak menikah sama Abangmu….”

Kudengar Mama kembali menangis sesegukan. Bujing Mainun tampak kembali menepuk halus kedua bahu Mama, berusaha menenangkan. Sesekali dia menghapus air mata Mama dengan sapu tangannya.

Tanpa terasa akupun mulai ikut menangis. Jadi papa sampai sejahat itu? Jadi selama ini TV bukan sedang diservis dan celengan bukan diambil karena uangnya mau dikasih ke Opung. Jadi? Ah… aku pun mulai marah…

“Kenapa si abang bisa gitu kak? Sekarang kemana si Abang?”

“Kakak gak tahu kemana abangmu, Nun. Tiga hari yang lalu ada orang datang, mau nagih hutang. Katanya hutang judi… duh…. Ya Allah ya Rabbi… kakak terkejut dan sedih, Nun. Waktu Abangmu pulang dan kakak tanya, dia marah, dia bilang ini urusan laki-laki dan katanya dia mau bertanggung jawab.”

“Dia nggak ngaku kalau dia udah maen judi kak?”

“Dia langsung pergi, Nun, dan sampai sekarang dia belum pulang. Itu sebabnya kakak bingung, Nun… itu sebabnya kakak telpon kau tadi pagi, mau minta tolong sama kau, Nun,” Mama mulai menangis lagi.

Di balik pintu kamar. Air mataku semakin deras. Yang aku rasakan, memang aku sedih karena Mama sedih. Tapi enggak cuma itu. Aku mulai benci papa. Aku tahu judi itu dosa dan papaku seorang penjudi yang sudah mencuri harta keluarganya sendiri dan sekarang pergi meninggalkan kami.

*****

Pengecut. Pikirku. Vonisku di usia itu.

Pengecut. Pikirku. Vonisku di usia itu.

Aku bangkit, beranjak ke kulkas yang mulai karatan, meninggalkan tulisanku.

Arghhhh… Deretan botol Wisky kosong yang ada, berderet mengejekku. “Apalagi yang tersisa untuk malam ini selain 1 batang kretek ini?”

Sedikit kesal, kubuang badanku ke tempat tidur. Mataku perlahan menyusuri garis plafon, nanar. Sementara itu otakku pun aku terus berpikir. Apa mungkin bibit-bibit pengecut itu ada di tubuhku?

Aku sudah punya contoh sosok pengecut yang sangat sempurna dalam hidupku. Laki-laki yang begitu saja pergi dan meninggalkan istri dan 3 anaknya yang masih kecil-kecil. Bahkan 1 orang yang masih bayi. Laki-laki seperti apa itu? Tidak hanya pergi, tapi mengambil semua hartanya dengan sangat manis. Aku yakin… saat itu Mama bingung dan menangis karena enggak tahu lagi bagaimana harus membiayai kami semua.

Arghhh…. Aku semakin yakin kalau ternyata bibit itu telah menyebar di tubuhku. Bukankah selama ini aku pun selalu melampiaskan semua semuanya kepada hal lain. Tidak pernah mau berani mengatasi semua yang ada sendiri dengan benar, sebagai laki-laki tentunya.

Bukankah selama ini akupun lari dan menyembunyikan diri di balik apartemen kumal dan mabuknya minuman-minuman itu? Bukankan akupun sudah sama pengecutnya dengan dia?

“Daaaamn…. Bangsaattttttt…..!!!”

Aku pun nggak bisa lagi mengendalikan emosiku. Barang-barang yang ada di buffet di samping tempat tidur pun berantakan terkibas oleh tanganku yang bergerak liar mencari sasaran emosinya.

Sontak aku terduduk lunglai. Menekan-nekan ulu hati yang sesak dengan silangan tanganku. Sembari menahan sesaknya, aku memungut Qur’an yang ikut terjatuh. Al Qur’an yang berdebu titipan Mama untuk kubaca tapi tak pernah kuturuti.

Akupun menangis sejadi-jadinya.

Bukan karena merasa kotor karena lalai beribadah. Akan tetapi karena merasa telah menjadi anak yang sangat tidak berguna. Anak yang aku yakin, akan sangat menyakiti hati mamanya. Mama yang akan melihat anaknya yang tidak pernah berjuang untuk hidupnya, untuk keluarganya. Anaknya yang melarikan diri dari semua masalah hidupnya. Anaknya yang sama pengecutnya sama suaminya.

“Mama, apakah lebih baik aku sempurnakan saja pengecutku ini? Agar kau tidak berlama-lama lagi memikirkan kebodohan anakmu ini.”

Perlahan… kuambil cutter dari atas TV. Kukepal erat-erat telapak tangan kiriku agar jelas semua urat-urat kehidupanku.

“Papa, mungkin ini cara terbaik untuk membuktikan kalau aku adalah keturunan terbaikmu, persis sepertimu.”

Bersambung ke bagian (2)
Cermin Tentang Papa (2) : TERBAIK TERBURUK

Eka Siregar

Halo.. panggil Bang Eka aja ya.. pada dasarnya saya senang jalan-jalan, makan dan mengerjakan atau mencoba hal-hal baru. Nah, di sini saya coba bagi ke teman-teman apa-apa yang telah saya lihat, dengar, dan rasakan sendiri. Silahkan dibaca-baca ya..

52 Comments

  1. Entah kenapa, membaca tulisan “cerita tentang papa pengecut” menjadi miris akan dampak kisah masa lampau. Papa yang meninggalkan luka dan kemudian kembali turun ke anaknya. Disini, tokoh Utama mencoba untuk memaparkan masalah keluarga terlebih dahulu baru menjabarkan masalah took Utama itu sendiri. jadi penasaran, lanjutan ceritanya.

  2. Menjadi orang tua, entah sebagai papa atau mama, adalah tanggung jawab yang tak terkatakan. Besar atau berat sepertinya tak mampu menggantikan perasaan dan beban moral yang ditanggung orang tua. Salah melangkah sedikit saja, entah berapa keturunan akan rentan untuk celaka.

    Sedih bacanya, Bang.

  3. Aduh terbayang bagaimana perasaan istri dan anak anaknya. Entah apa yang ada dalam hati bapak seperti itu atau maaf mungkin tidak punya hati.
    Aku masih sedikit berharap akhir cerita nya tidak setragis yang aku pikirkan.

  4. Ada pepatah yang bilang kalau buah jatuh dak akan jauh dari induknya. Nah itu sebetulnya bukan hal yang pasti kan ya? kalau baca cerita tentang papa pengecut ini sebenernya kembali ke anaknya lagi kan ya. Apakah mau menjadi seperti papa nya atau berbeda. Jika memelih berbeda, harus bisa berpikir lebih positif gitu.

  5. Haduh, Bang. Nyesek banget bacanya. Sedih juga karena endingnya tragis. Pengennya sih bilang semoga pengalaman pahit kayak gini tetap bikin tokohnya kuat. Etapi endingnya udah begitu sih ya

  6. ‘cermin tentang papa’.. jika trauma atau apapun tentang masa lalu -yang kelabu- terus dihadirkan sampai masa kini seperti lelehan erupsi yang tidak terhapus oleh berjalannya waktu ya Bang. Ah, selalu tertegun dengan tulisan Bang Eka yang kaya pelajaran hidup….

  7. Wow saya gak nyangka ada sosok ayah yang seperti itu. Tahu cerita itu ada di TV, tapi baru sekali dapat cerita langsung dari yang saya kenal. Terima kasih sudah bercerita ya bang

  8. Aku bacanya jadi ikut kebawa suasana, bagus bgt alurnya., trus jadi baper ikutan sedih bayangin mamahnya yg nanggung beban karna perlakuan suaminya 🙁

  9. Cerita ini.. isinya inspirasi. Semua tulisan Bang Eka itu inspirasi, mau bentuknya apa pun. Salah satunya bahwa peristiwa yang dialami anak-anak di masa kecil, tak akan pernah dilupa, masuk alam bawah sadarnya, hingga saat dewasa dia harus memutuskan akan mengambil sikap apa, terhadap masa lalu tersebut. Inspiring, Bang…

  10. Perlahan… kuambil cutter dari atas TV. Kukepal erat-erat telapak tangan kiriku agar jelas semua urat-urat kehidupanku.

    Bang TV nya udah digadai bukan sih?

    Kupikir ini ceritanya langsung tamat. Padahal dah penasaran banget akhirnya kayak gimana. Kemaren dah spoiler sih jadi makin penasaran. Haha

  11. Mesti dibaca sama calon papa dan papa-papa yang lain juga nih… Bisa jadi pelajaran berharga dan perhatian penting supaya jadi papa terbaiq

  12. Suka banget sama tulisannya, bang.

    Memang, terkadang keluarga lah yang sering mengecewakanmenyakiti diri. Lanjutin yaa bang, kabar-kabarin kalau sudah jadi buku yaa, babang.

    Lebih baik Papa jadi pengecut, daripada Papa jadi sugar daddy…

  13. Tulisannya disempurnakam dengan perih ya bang dari yang aku baca di Bandung. Aku terkejut dan merinding baca terusannya, kirain babang bakal ngebiarin kaya waktu itu. Yang ini no komen bang, Perfect!!!

  14. Ping-balik: Cerita Tentang Papa : Contoh Sempurna Baik dan Buruk - Eka Siregar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close
Back to top button
Close