Home / STORY / Cerpen (Cerita Pendek) / Cerita Tentang Papa : “Kecil Kau Enggak Mau Mati”

Cerita Tentang Papa : “Kecil Kau Enggak Mau Mati”

Sebelumnya :
Cerita tentang Papa : You Are Nothing

Tiga Puluh Cerita tentang Papa (4)

“Sudah beres baju-bajunya, Bang?” suara mama dari luar kamar bercampur dengan teriakannya memanggil adik-adikku yang tampaknya masih berlarian ke sana ke mari sementara mama masih sibuk memasukkan barang-barang yang akan kami bawa ke Medan.

“Iya, Mah… dikit lagi,” sahutku.

Ya memang sedikit lagi. Tinggal buku-buku pelajaranku. Baju-baju sudah tertata rapi di koper kecilku. Saat memasukkan buku-buku tulis, aku teringat, aku belum memasukkan kaca mata renangku yang baru saja kupakai dan kutaruh di atas meja makan. Bergegas aku ambil. Aku enggak mau kalau benda tersebut sampai ketinggalan.

Berenang adalah hobiku, selain membaca. Walau sebenarnya — untuk bisa berenang — aku harus mengalami beberapa peristiwa tragis terlebih dahulu. Ya… benar-benar peristiwa tragis. Bagaimana tidak, aku pernah jatuh ke sungai dan hampir masuk terseret ke air terjun bendungan.

Seperti biasa, kalau kami pergi ke kebun Opung — ayah dari papaku — papa sering mengajak aku dan adikku berenang di sungai yang berada di kebun keluarga itu. Sungainya jernih sekali, arusnya pun tidak terlalu deras sebenarnya, karena ujungnya sudah dibendung untuk pengairan lahan-lahan sawah yang ada di desa itu.

Kejadiannya bermula justru saat kami semua sudah selesai bermain dan berenang di sungai. Aku duduk di pundak papa, dan adikku, Yana — anak no dua — digendong di depan. Saat akan naik ke tepi, jalannya menanjak dan becek.  Tiba-tiba papa terpeleset dan aku jatuh terpelanting kembali ke dalam sungai. Saking paniknya aku tidak bisa bangkit dan akhirnya terhanyut. Arus sungai membawa ku hilir ke arah bendungan. Untung saat itu papa berhasil lari menyusuri pinggiran sungai dan terjun langsung ke dalam bendungan. Dengan cekatan papa berenang dan meraih badanku yang hampir saja masuk ke dalam air terjunnya.

Aku tidak tahu kejadian aslinya seperti apa sebenarnya. Semua itu hasil ceritaan dari papa saat aku siuman dalam pelukannya di rumah. Sesekali dia menyuapiku teh manis hangat untuk menghangati tubuhku yang sedang menggigil.

Sejak kejadian itu, papa mulai mewajibkan aku untuk belajar berenang. Setiap ada pelajaran berenang di sekolah, papa yang paling semangat mengantarkanku ke kolam renang, tempat sekolahku mengajarkan mata pelajaran ini pada murid-muridnya. Kalau hari Minggu tiba, papa selalu mengajak kami, aku dan adikku ke kolam renang untuk belajar berenang. Pokoknya, papa paling pintar mengalihkan trauma kecelakaan itu, agar pada akhirnya aku jadi tidak takut sama air.

Sampai pada suatu waktu, papa menyuruh kami berenang di tempat yang lebih dalam. Yang dalamnya sekitar tiga meter. Mukaku langsung pucat, aku terdiam. Badanku langsung menggigil meski tidak kedinginan. Aku menggelengkan kepala sebagai tanda kalau aku tidak mau karena tidak berani. Kulihat muka papa mulai berubah, sepertinya dia mau marah dan memaksaku. Baru saja dia mau bicara, tiba-tiba adikku loncat ke tempat yang dalam itu dan berenang di sana. Ya… adikku memang sudah bisa berenang juga, sama sepertiku, hanya saja ternyata dia lebih berani untuk berenang di tempat yang dalam.

Begitu melihat adikku terjun, wajah papa semakin mengeras, matanya mulai mendelik, “Kau lihat adek kau, dia sudah berani, masak kau enggak berani?”

Aku tetap diam, air mataku mulai mengalir karena ketakutan. Aku tetap menunduk.

“Bah, nangis pulak kau. Mau jadi apa kau, kecil gak mau mati sudah besar cengeng pulak kau? Apa yang kau takutkan?”  papa mulai mendekatiku.

Aku mulai mundur, sepertinya aku akan melawan kalau dia memaksaku untuk berenang di kolam yang dalam itu.

“Mau kemana kau? Melawan kau?” katanya sambil mendekatiku lagi.

Seketika itu juga papa menggendongku dan melempar badanku ke dalam kolam renang yang dalam itu. Dia enggak peduli pada teriakanku. Dia enggak peduli sama tangisanku. Dia enggak peduli pada orang lain di sekelilinya yang melihat apa yang dia lakukan.

Begitulah papaku. Keras dan tahu betul apa yang akan dia lakukan. Memang aku yang penakut. Mungkin memang karena trauma yang disebabkan oleh peristiwa hanyut sebelumnya. Namun entahlah. Seharusnya aku tidak perlu takut. Tidak mungkin dia akan membiarkanku tenggelam. Kalau memang itu kemauannya, pasti sudah dibiarkannya aku hanyut di sungai dulu.

Kerasnya didikan papa sudah menjadi makanan kami sekeluarga. Kata-kata “Kecil Kau Enggak Mau Mati, Besar Kau…..” sudah jadi santapan kami sehari-hari kalau kami tidak menuruti kemauannya. Kasar memang. Itulah papaku, yang kini kabur meninggalkan kami.

Pelan-pelan kumasukkan kaca mata renangku ke tas sekolah, bersama dengan peralatan belajar yang akan kupakai di Medan nanti. Kalau bukan karena papa, mungkin aku tidak secinta ini sekarang sama berenang.

Aku sedikit melamun jadinya. Sama siapa nanti aku berenang di Medan. Siapa yang akan mengantarkanku. Di satu sisi aku menolak untuk diantarkan oleh dia, papa yang telah melukai mama. Di sisi lain aku rindu berenang bersama papa. Papa selalu punya cara agar kami tidak hanya sekedar berenang di kolam renang. Ada saja permainan yang dia ajarkan agar kami jadi semakin lama di dalam air. Lebih kuat menahan nafas.

Malam itu, aku gagal melupakan segala kehebatan papa. Gagal pula menghapus nila yang sudah menodai kekagumanku padanya.

Baca juga :
Cerita tentang Papa (1) : Pengecut
Cerita tentang Papa (2) : Contoh sempurna baik dan buruk

#30DWC #30DWCJILID13 #Day8

About Eka Siregar

Halo.. panggil Bang Eka aja ya.. pada dasarnya saya senang jalan-jalan, makan dan mengerjakan atau mencoba hal-hal baru. Nah, di sini saya coba bagi ke teman-teman apa-apa yang telah saya lihat, dengar, dan rasakan sendiri. Silahkan dibaca-baca ya..

Check Also

Cerita Tentang Papa : Tiga Temurun

Sebelumnya : Cerita tentang Papa : “Ampun, Pa!” 10 Cerita tentang Papa (6) Istriku sudah …

Cerita Tentang Papa : “Ampun, Pa !”

Sebelumnya : Cerita Tentang Papa : “Kecil Kau Enggak Mau Mati” Cerita tentang Papa (5) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *