Home / STORY / Cerpen (Cerita Pendek) / Cerita Tentang Papa : Contoh Sempurna Baik dan Buruk

Cerita Tentang Papa : Contoh Sempurna Baik dan Buruk

Sebelumnya :
Cerita Tentang Papa : Pengecut

Tiga Puluh Cerita Tentang Papa (2)

Hari dimana aku mendengarkan cerita Mama tentang Papa yang penjudi, benar-benar hari yang membuatku kacau. Bahkan sangat kacau. Otak masa kecilku belum mampu mencerna dan menjalin sebuah hubungan sebab akibat, memberikan sebuah pemakluman, apalagi memanipulasi sebuah prasangka.

Saat itu, otakku hanya bisa berpikir tentang Papa yang jahat, Papa yang pengecut. Papa yang sudah bikin Mama sedih sekali — bahkan tidak pernah aku melihat Mama sesedih tadi —  dan melakukan hal-hal yang aku tahu itu tidak benar. Papa yang tega meninggalkan kami selama hampir satu minggu ini, dan Mama bilang Papa sedang dalam perjalanan kerja.

Aku ingat sekali, aku jadi enggan untuk menemui Mama di luar. Entah kenapa, antara tidak mau melihat Mama yang lagi sedih atau malah takut membuat Mama jadi tambah bersedih. Aku hanya terdiam di atas tempat tidur. Sesekali pandanganku bermain di kumpulan lukisan karyaku yang ku tempel di dinding.

Tepat saat pandanganku tertuju ke lukisan pemandangan pertamaku, pandanganku terhenti di sana. Pemandangan dengan dua buah gunung dan jalan yang keluar dari tengahnya dan semakin melebar di bawahya. Sebuah lukisan yang selalu dilukis oleh anak kecil yang baru pertama kali belajar melukis. Aku langsung ingat Papa. Papa yang pertama kali mengajarkan aku menggambar pemandangan itu.

Ya… di sisi lain di hatiku, aku tidak bisa melupakan Papa. Papa yang lucu, yang selalu bermain dengan kami. Papa yang pintar dan bahkan dianggap jenius oleh teman-temanku. Papa yang sebenarnya lebih suka menjagaku saat aku sakit. Banyak sekali yang aku belajar dari Papa. Lantas sekarang… kenapa semuanya jadi berubah membingungkan begini?

Aku hanya bisa terduduk di sudut kamar, menangis bingung. Ada Mama yang kusayang sedang sedih, ada Papa yang kukagumi sedang melakoni tokoh jahat dalam kehidupan kami.

Aku terbangun oleh bunyi jangkrik yang sedang ramai di musim hujan ini. Tanpa sadar aku tertidur sampai Magrib. Sepertinya Mama yang memindahkanku ke atas tempat tidur. Dari jendela yang belum tertutup, kulihat di luar sudah mulai gelap. Adek, panggilan untuk adikku sudah tidak ada di tempat tidur. Aku bergegas ingin segera menutup jendela. Baru saja kakiku menjejakkan telapaknya di ubin, aku terdiam. Yang akan kulakukan ini adalah kelakuan Papa yang diturunkan kepadaku.

Ucapan aneh ini yang dia ucapkan padaku saat sore tiba, “Bang, jangan lupa kau tutup jendela sebelum malam, banyak angin dan hal buruk yang akan masuk ke kamar kau nanti. Ya… minimal angin malam itu kotor, udah banyak debu sama asap knalpot yang terkumpul, mau kau racuni adek kau nanti sama udara kotor itu?”

Ya… begitulah, Papa selalu penuh dengan logika, bahkas saat menakut-nakuti kami.

Semua selalu berkaitan dengan Papa. Wajar memang, Papa kepala keluarga. Banyak sekali tugas kepala keluarga yang memang harus dia kerjakan, dan pastinya selalu berhubungan dengan kami, anak-anaknya. Namun Papa kami ini istimewa sekali, bahkan banyak teman kami yang iri karena mereka tidak mendapatkan apa yang Papa kami lakukan kepada kami.

Dia yang mengajarkan kami membaca di usia 5 tahun. Dia yang mengajarkan kami hitung-hitungan kali-kalian sebelum masuk SD, dia yang ajarkan kami bagaimana menghitung perkalian yang berangka lima dan sebelas di luar kepala, tanpa bantu alat hitung. Papa juga yang mengajarkan kami membuat banyak mainan dari peralatan yang ada di sekitar rumah kami. Nah… Papa mana yang bisa sekeren itu?

Tanpa sadar aku sudah di depan jendela. Pandangan mataku ku sapu ke sekitar halaman samping rumah, kami baru saja membuat sepeda kayu dari ban bekas dan seingatku, seharusnya ada di samping kandang ayam di bawah pohon belimbing. Bisakah kalian membayangkan sepeda terbuat dari kayu? Itu baru saja kami buat berdua, 2 minggu yang lalu.

Belum kudapatkan sepeda itu, tiba-tiba aku mendengar suara Mama, “Bang, besok Mama ikut Abang ke sekolah ya… Mama mau jumpa kepala sekolah, mau membicarakan kepindahan sekolah, Abang.”

“Pindah, Mah?”  Aku bertanya karena aku enggak tahu kenapa mesti tiba-tiba pindah.

“Iya, Bang, tadi Mama bicara sama Bujing Mainun, kata Bujing kita disuruh opung pindah ke Medan dalam beberapa hari ini.”

Aku enggak berani bertanya lagi ke Mama. Banyak dugaan, tapi ah… sudahlah… aku bukan tipe anak manja dan memang tidak punya otoritas untuk menolak. Apalagi saat itu Mama sedang sangat sedih, bagaimana mungkin aku membantahnya.

Kalau aku jadi pindah, ini artinya aku, aku sudah pindah sebanyak 4 kali dalam hidupku di usia 8 tahun. Pertama kali kami pindah, yaitu waktu aku masih di Taman Kanak-Kanak, kami pindah dari rumah Opung ke rumah sendiri. Berikutnya yang kedua, kami pindah lagi ke rumah Opung saat aku masuk SD. Yang eetiga kami pindah ke rumah kami yang sekarang, dan yang ke empat adalah saat nanti pindah kembali ke rumah Opung.

Aku mulai berpikir, kenapa kami sering berpindah-pindah rumah. Apakah benar karena kerja Papa sebagai kotraktor, atau seperti yang aku dengar di sebuah percetakan, atau yang lain lagi? Aku enggak pernah tahu, tapi aku mulai curiga pada satu hal.

“Bang…” Tiba-tiba suara Mama yang masih ada di hadapanku mengejutkanku. “Abang makan dulu ya, sesudah itu baru belajar, tapi jangan sampe terlalu malam.” Lantas Mama pergi meninggalkan aku yang langsung menutup jendela kamar.

Babak baru akhirnya aku alami lagi. Sekolah baru. Meski pernah tinggal di rumah Opung sebelumnya, tapi waktu itupun aku enggak terlalu yakin apakah aku bisa hidup seperti layaknya di rumah sendiri.

Papa. Terima kasih. Kau buat kami repot lagi. Kau contoh sempurna sebuah dari sebuah kebaikan dan keburukan.

Selanjutnya :
Cerita Tentang Papa (3) : You Are Nothing

#30DWC #30DWCJILID12 #Day6

 

 

About Eka Siregar

Halo.. panggil Bang Eka aja ya.. pada dasarnya saya senang jalan-jalan, makan dan mengerjakan atau mencoba hal-hal baru. Nah, di sini saya coba bagi ke teman-teman apa-apa yang telah saya lihat, dengar, dan rasakan sendiri. Silahkan dibaca-baca ya..

Check Also

Cerita Tentang Papa : Tiga Temurun

Sebelumnya : Cerita tentang Papa : “Ampun, Pa!” 10 Cerita tentang Papa (6) Istriku sudah …

Cerita Tentang Papa : “Ampun, Pa !”

Sebelumnya : Cerita Tentang Papa : “Kecil Kau Enggak Mau Mati” Cerita tentang Papa (5) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: