Home / STORY / Cerbung (Cerita Bersambung) / Cerita Tentang Papa : “Ampun, Pa !”

Cerita Tentang Papa : “Ampun, Pa !”

Sebelumnya :
Cerita Tentang Papa : “Kecil Kau Enggak Mau Mati”

Cerita tentang Papa (5)

Perjalanan ke Medan sekitar empat jam. Kekagumanku ke mama mulai timbul. Mama yang cantik yang selama ini hanya kukenal sebagai mama yang hanya pandai memasak dan mengurus pekerjaan rumah, ternyata punya keahlian lagi. Hal ini mungkin saja timbul karena terpaksa. Di terminal bus kulihat mama yang menggendong adik perempuanku yang paling kecil, dengan ke dua tangannya yang menenteng koper pakaian yang cukup besar, masih bisa berlari mengejar bus yang kelihatannya sudah mau jalan. Mama yang kutahu lembut dan berasal pula dari keluarga priyayi, tambah berubah 180 derajat. Sesekali dia berteriak agak kondektur atau pak supirnya menghentikan busnya.

Sambil terengah-engah akupun berlari mengejar mama. Tangan kiriku menyeret koper kecilnya sementara itu, tangan kananku menarik-narik, mengajak adik laki-lakiku untuk ikut berlari. Hampir saja ransel yang ku gendong jatuh karena beratnya, sementara itu mama berteriak-teriak memanggil kami supaya cepat.

Sepanjang perjalanan, aku hanya menatap wajah mama yang hanya menatap pemandangan di luar jendela mobil dengan tatapan yang nanar. Kulihat ada bulir air mata yang mulai mengembang kecil di ujung matanya. Entah kenapa, saat itulah aku berjanji dalam hati, untuk selalu menjaganya seumur hidupku.

Sesampainya di rumah opung, kulihat rumah yang besar sekali ini sepi sekali. Apa karena saking besarnya? Entahlah. Sudah hampir setengah jam kami menunggu dan memanggil-manggil dari depan, tapi enggak ada yang menjawab, apalagi membuka pintu. Aku pun mencoba berlari ke belakang rumah lewat taman yang ada di samping rumah. Rumah opung memang rumah yang sangat besar menurutku. Di dalamnya ada 13 kamar tidur, 3 ruang tamu yang juga cukup besar. Namun yang aku suka adalah dapurnya. Dapur sekaligus ruang makannya, luasnya hampir sebesar 2,5 kali lapangan bulutangkis. Kebayang enggak sebesar apa itu rumah? Di halaman belakang yang dikelilingi tembok tinggi ada 4 lapangan bulutangkis dan berbagai jenis pohon buah yang besar-besar. Itu sebabnya ada 5 orang anak opung yang jago bermain bulutangkis dan sudah punya prestasi di tinggal nasional.

Dugaanku tepat sekali, lewat pintu dapur yang tidak tertutup aku melihat opung dan beberapa adik papa sedang berkumpul di sana. Saking besarnya itu rumah, sampai-sampai teriakanku dan mama enggak terdengar. Aku juga heran, kenapa di rumah sebesar itu tidak ada belnya.

“Mlekum, Pung,” sapaku ragu. Meski aku cucu pertamanya di Medan dan jadi kesayangan opung laki-laki, aku enggak dekat sama opung perempuan. Kulihat opung terkejut melihat kehadiranku. Aku pun tidak melihat gelagat atau tanda-tanda kalau dia sedang menunggu kami.

“Eh, Dika, sudah lama kau, sama siapa kau kesini?”

Tepat dugaanku, ternyata opung enggak tahu kalau kami mau datang.

“Sama mama, Pung. Mama di depan.”

“Oh… kok gak bilang-bilang kalian? Sini masuk, panggil mamakmu masuk.”

Aku pun masuk, masih menundukkan kepala. Kulirik bujing Teti dan bujing Butet yang lagi masak dengan ujung mataku, mereka tampak sedang tersenyum ke arahku, akupun kembali menunduk malu. Sesampainya di pintu ruang tamu, langsung ku buka pintu dan kubantu mama memasukkan semua kopernya. Belum sempat aku bicara ke mama. Tiba-tiba opung sudah berada di belakangku.

“Kok gak bilang-bilang kalian kemari, Nak Sally, loh… mau lama kalian di sini? Mana si Izam?” tanya opung ke mama. Opung juga menanyakan papa.

Mama terlihat bingung dengan pertanyaan opung.

Melihat mimik mama, opungpun langsung menyuruh mama masuk, “Ya, sudah, masuklah kalian dulu, tarok dulu barang-barang kalian di kamar si Izam dulu. Nanti aja kita ngobrol ya.”

Kamar Izam? Duh, dari sejak mau berangkat ke Medan, aku sama sekali enggak menduga kalau pada akhirnya kami akan tinggal kembali di kamar papa. Kamar yang terletak paling ujung antara gudang dan dapur. Bagiku dulu, kamar tersebut adalah kamar wujud kekuasaan papa. Kalau kalian bertanya padaku, tempat apa yang paling mengerikan di dunia ini, pasti aku langsung akan menjawab, Kamar Izam. Bukan karena isi kamarnya yang mengerikan, bukan pula ada hal-hal “aneh” yang terjadi di kamar tersebut.

Seperti yang pernah aku ceritakan sebelumnya, papa orang yang keras. Orang yang “merasa” tahu betul apa yang akan dikerjakannya. Segala “pembelajaran” yang dia berikan ke kami, kalau kubayangkan sekarang benar-benar jadi pembelajaran juga buatku. Pelajaran untuk tidak akan pernah menirunya. Tidak akan pernah!! Aku punya cara yang lebih “manusiawi” untuk kuberikan pada anakku,

Papa mempergunakan kamar tersebut untuk menghukum kami. Apapun kesalahan yang kami lakukan, dia akan mengurung kami di kamar tersebut malam-malam dan mematikan lampu di dalamnya. Kami yang masih kecil, tentu saja menangis ketakutan kalau sudah dihukum seperti itu. Tidak peduli seberapa banyak kami berteriak memohon ampun. Tak peduli seberapa keras kami berteriak. Pintu akan terbuka jika sudah sampai waktunya. Waktu yang dia tentukan sendiri lamanya.

Tidak ada seorangpun yang berani menahan atau melarang papa untuk memberikan hukuman itu pada kami. Pada saat hukuman selesai dan pintu kamar dibuka, aku bisa melihat, adik-adik papa menatap kami penuh iba. Lalu kami lari ke pangkuan papa.

Lalu, pernahkah kalian membayangkan, apa yang papa lakukan kepada kami setelah itu? Ini adalah salah satu yang kutiru dari papa dan kulakukan ke anakku.

Papa lantas menghampiri kami, memeluk kami dan berkata, “Maafkan, papa. Papa harus melakukan hukuman kalau kalian bersalah, seberat apapun itu, kalian harus bertanggung jawab untuk kesalahan yang telah kalian perbuat. Kalau Kalian takut, sedih atau marah, papa minta maaf.”

“Ampun, pa! Ampun, kami enggak akan ulangi lagi.”

Namun, kejadian hukuman kamar Izam tetap terjadi, karena sebagai anak kecil, pasti kami melakukan kesalahan. Masih ada 2 hukuman lagi yang berhubungan dengan cambukan lidi di tangan dan ikat pinggang di pantat kami.

Lantas, apakah hal yang sama layak dan boleh aku lakukan kepada papa sekarang. Mengurungnya di kamar di depanku sekarang. sampai dia menangis kelaparan? Menghukumnya karena dia telah melakukan kesalahan kepada istri dan anak-anaknya?

 

#30DWC #30DWCJILID13 #Day9

About Eka Siregar

Halo.. panggil Bang Eka aja ya.. pada dasarnya saya senang jalan-jalan, makan dan mengerjakan atau mencoba hal-hal baru. Nah, di sini saya coba bagi ke teman-teman apa-apa yang telah saya lihat, dengar, dan rasakan sendiri. Silahkan dibaca-baca ya..

Check Also

Cerita Tentang Papa : Tiga Temurun

Sebelumnya : Cerita tentang Papa : “Ampun, Pa!” 10 Cerita tentang Papa (6) Istriku sudah …

Cerita Tentang Papa : “Kecil Kau Enggak Mau Mati”

Sebelumnya : Cerita tentang Papa : You Are Nothing Tiga Puluh Cerita tentang Papa (4) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: