Cerita Tentang Papa (4) : “Ampun, Pa !”

CERMIN (Cerita Mini)
Cerita ini semata-mata hanya fiksi belaka dan diceritakan bersambung.

Untuk lebih lengkapnya silahkan baca awal cerita dari :
Cermin Tentang Papa (1) : PENGECUT

(4)

Hari ini aku sudah diperbolehkan pulang. Dua hari di rumah sakit membuatku merasa benar-benar tidak berguna. Terlebih lagi untuk dia… lagi-lagi merepotkan wanita termulia dalam hidupku.

Kulihat ada satu koper besar di samping tempat tidur, yang kutahu itu koperku. Apa mungkin mama yang bawa? Kenapa?

“Ka, makan dulu, hari ini mama bikin daun ubi tumbuk sama ikan sambal. Urusan rumah sakit sudah beres, kita langsung ke Bandung aja hari ini ya.”

Tiba-tiba mama masuk. Langsung menyiapkan dua makanan kesukaanku dari kecil. Mama yang luar biasa, yang tetap memperhatikan dan memperlakukanku dengan luar biasa, apapun kondisiku.

*****

Perjalananku ke Bandung dengan mama, membawaku kembali ke ingatan saat kami harus pindah ke Medan gara-gara papa.

*****

Perjalanan ke Medan sekitar empat jam. Kekagumanku ke mama semakin membesar. Mama yang cantik, yang selama ini sudah kukenal sebagai mama yang pandai memasak dan mengurus pekerjaan rumah, ternyata punya keahlian lagi. Hal ini mungkin saja timbul karena terpaksa. Di terminal bus mama menggendong adik perempuanku yang paling kecil, dengan ke dua tangannya yang menenteng koper pakaian yang cukup besar, masih bisa berlari mengejar bus yang kelihatannya sudah mau jalan. Mama yang kutahu lembut dan berasal dari keluarga priyayi sunda, tampak berubah 180 derajat. Sesekali dia berteriak agak keras ke kondektur atau pak supirnya untuk menghentikan busnya.

Sambil terengah-engah akupun berlari mengejar mama. Tangan kiriku menyeret koper kecilku sementara itu, tangan kananku menarik-narik, mengajak adik laki-lakiku untuk ikut berlari. Hampir saja ransel yang ku gendong jatuh karena beratnya, sementara itu mama berteriak-teriak memanggil kami supaya cepat.

Sepanjang perjalanan, aku hanya menatap wajah mama yang hanya menatap pemandangan di luar jendela mobil dengan tatapan yang nanar. Kulihat ada bulir air mata yang mulai mengembang kecil di ujung matanya.

Entah kenapa, saat itulah aku berjanji dalam hati, untuk selalu menjaganya seumur hidupku.

Entah kenapa, saat itulah aku berjanji dalam hati, untuk selalu menjaganya seumur hidupku.

Sesampainya di rumah opung, kulihat rumahnya sekali ini sepi sekali. Apa karena saking besarnya? Entahlah. Sudah hampir setengah jam kami menunggu dan memanggil-manggil dari depan, tapi enggak ada yang menjawab, apalagi membuka pintu. Aku pun mencoba berlari ke belakang rumah lewat taman yang ada di samping rumah. Rumah opung memang rumah yang sangat besar menurutku. Di dalamnya ada 13 kamar tidur, 3 ruang tamu yang juga cukup besar. Namun yang aku suka adalah dapurnya. Dapur sekaligus ruang makannya, luasnya hampir sebesar 2,5 kali lapangan bulutangkis. Kebayang enggak sebesar apa itu rumah? Di halaman belakang yang dikelilingi tembok tinggi ada 4 lapangan bulutangkis dan berbagai jenis pohon buah yang besar-besar. Itu sebabnya ada 5 orang anak opung yang jago bermain bulutangkis dan sudah punya prestasi di tinggal nasional.

Dugaanku tepat sekali, lewat pintu dapur yang tidak tertutup aku melihat opung dan beberapa adik papa sedang berkumpul di sana. Saking besarnya itu rumah, sampai-sampai teriakanku dan mama enggak terdengar. Aku juga heran, kenapa di rumah sebesar itu tidak ada belnya.

“Mlekum, Pung,” sapaku ragu. Meski aku cucu pertamanya dan jadi kesayangan opung laki-laki, aku enggak dekat sama opung perempuan. Kulihat opung terkejut melihat kehadiranku. Aku pun tidak melihat gelagat atau tanda-tanda kalau dia sedang menunggu kami.

“Eh, Dika, sudah lama kau, sama siapa kau kesini?”

Tepat dugaanku, ternyata opung enggak tahu kalau kami mau datang.

“Sama mama, Pung. Mama di depan.”

“Oh… kok gak bilang-bilang kelen*? Sini masuk, panggil mamakmu masuk.”

Aku pun masuk, masih menundukkan kepala. Kulirik bujing Teti dan bujing Butet yang lagi masak dengan ujung mataku, mereka tampak sedang tersenyum ke arahku, akupun tertunduk malu seperti orang yang tertangkap basah. Sesampainya di pintu ruang tamu, langsung ku buka pintu dan kubantu mama memasukkan semua kopernya. Belum sempat aku bicara ke mama. Tiba-tiba opung sudah berada di belakangku.

“Kok gak bilang-bilang kalian kemari, Nak Sally. Loh… kayaknya mau lama kalian di sini, ya? Mana si Izam?” tanya opung ke mama. Opung juga menanyakan papa.

Mama terlihat bingung dengan pertanyaan opung.

Melihat mimik mama, opungpun langsung menyuruh mama masuk, “Ya, sudah, masuklah kelen dulu, tarok dulu barang-barang kalian di kamar si Izam dulu. Nanti aja kita ngobrol ya.”

Kamar Izam? Duh, dari sejak mau berangkat ke Medan, aku sama sekali enggak menduga kalau pada akhirnya kami akan tinggal kembali di kamar papa. Kamar yang terletak paling ujung antara gudang dan dapur.

Bagiku dulu, kamar tersebut adalah kamar wujud kekuasaan papa. Kalau kalian bertanya padaku, tempat apa yang paling mengerikan di dunia ini, pasti aku langsung akan menjawab, Kamar Izam!

Bagiku dulu, kamar tersebut adalah kamar wujud kekuasaan papa. Kalau kalian bertanya padaku, tempat apa yang paling mengerikan di dunia ini, pasti aku langsung akan menjawab, Kamar Izam!

Bukan karena isi kamarnya yang mengerikan, bukan pula ada hal-hal “aneh” yang terjadi di kamar tersebut.

Sebagai orang yang “merasa” tahu betul apa yang akan dikerjakannya. Segala “pembelajaran” yang dia berikan kepada kami,benar-benar tidak sama menurutku dengan apa yang terjadi pada anak kecil lainnya seumuranku, di sekitarku.

Meski jika kupikir-pikir sekarang, apa-apa yang dia perlakukan ke kami dulu benar-benar jadi pembelajaran berharga buatku. Namun pelajaran untuk tidak akan pernah menirunya. Tidak akan pernah!! Aku punya cara yang lebih “manusiawi” untuk kuberikan pada anakku. Papa bukan hanya sekedar keras dan disiplin bagiku dulu, tapi mengerikan.

Papa mempergunakan kamar tersebut untuk menghukum kami. Apapun kesalahan yang kami lakukan, dia akan mengurung kami di kamar tersebut malam-malam dan mematikan lampu di dalamnya. Kami yang masih kecil, tentu saja menangis ketakutan kalau sudah dihukum seperti itu. Tidak peduli seberapa banyak kami berteriak memohon ampun. Tak peduli seberapa keras kami berteriak. Pintu akan terbuka jika sudah sampai waktunya. Waktu yang dia tentukan sendiri lamanya.

Tidak ada seorangpun yang berani menahan atau melarang papa untuk memberikan hukuman itu pada kami. Pada saat hukuman selesai dan pintu kamar dibuka, aku bisa melihat, adik-adik papa menatap kami penuh iba. Lalu kami lari ke pangkuan papa.

Lalu, pernahkah kalian membayangkan, apa yang papa lakukan kepada kami setelah itu?

Lalu, pernahkah kalian membayangkan, apa yang papa lakukan kepada kami setelah itu?

Ini adalah salah satu yang kutiru dari papa dan kulakukan ke anakku, perlakuan yang terbaik, dari semua hal “mengerikan” yang dia lakukan ke kami.

Papa lantas menghampiri kami, memeluk kami dan berkata, “Maafkan, papa. Papa harus melakukan hukuman kalau kalian bersalah, seberat apapun itu, kalian harus bertanggung jawab untuk kesalahan yang telah kalian perbuat. Kalau kalian takut, sedih atau marah, papa minta maaf.”

“Ampun, pa! Ampun, kami enggak akan ulangi lagi.”

Namun, kejadian hukuman kamar Izam tetap terjadi, karena sebagai anak kecil, pasti kami melakukan kesalahan. Masih ada dua hukuman lagi yang berhubungan dengan cambukan lidi di tangan dan ikat pinggang di pantat kami.

*****

Lantas, apakah hal yang sama layak dan boleh aku lakukan kepada papa sekarang. Mengurungnya di kamar di depanku sekarang. sampai dia menangis kelaparan? Menghukumnya karena dia telah melakukan kesalahan kepada istri dan anak-anaknya? Setelah melakukan semua ini sehingga kami harus mengungsi kembali ke tempat yang sangat kutakuti.

*****

Kelen = Kalian
Bujing = Tante

Bersambung ke bagian (5)
Cerita Tentang Papa (5) : 3 TEMURUN

Untuk lebih lengkapnya silahkan baca awal cerita dari :
Cermin Tentang Papa (1) : PENGECUT

Eka Siregar

Halo.. panggil Bang Eka aja ya.. pada dasarnya saya senang jalan-jalan, makan dan mengerjakan atau mencoba hal-hal baru. Nah, di sini saya coba bagi ke teman-teman apa-apa yang telah saya lihat, dengar, dan rasakan sendiri. Silahkan dibaca-baca ya..

30 Comments

  1. Widihh baca ini jadi inget masa kecil om. Pengalaman yang sama dgn Dika. Hahahaa… Ga tidur siang aja dihajar…Dan kata-kata “ampun pak” adalah kata-kata wajib. Tapi sekarang justru kangen dimarahin…😭😭

  2. Rumahnya gede banget ya, ruang makan aja lebih dari dua kali lapangan bulutangkis… Heran ya, orang2 tua kita punya rumah gede2, padahal pendidikannya iasa aja, kita yg pendidikannya lbh tinggi, gak sanggup beli rumah segede yg org tua punya

  3. Lagi asik-asik baca terus udahan, ish sebel.
    Om ini cermisnya nggak mau dibukukan? bagus gini ceritanya. Pas baca berasa haru gitu deh.
    Walaupun terlihat kejam, aku kok kagum sama sosok papa di cerita ini ya. Mendidiknya keras tapi ada benarnya kalau salah ya harus dihukum.

  4. Hmm..
    Masa kecil memang selalu menyenangkan, membahagiakan atau menyedihkan. Akan selalu seperti itu..

    Kalau aku.. kenangan masa kecil.. bersama Bapak.. ada sedih, senang dan menakutkan.. tapi aku nggak trauma. Dari empat bersaudara aku yang sering sekali dapat hukuman, karena pemberontak 😀

    Bang Eka.. ceritanya begituh nyata. Aku jadi teringat masa-masa kecilku dulu saat bersama almarhum Bapak.
    Yang pasti tulisan ini membuktikan bahwa penulisnya sangat menyayangi ayahnya.

    Boleh aku kasih saran sedikit saja..
    POV cerpen ini kan menggunakan orang pertama yah. Next kalau nulis lagi jangan menggunakan “ku lihat”

    Sesampainya di rumah Opung, kulihat sepi sekali.
    Sesampainya di rumah Opung, sepi.

    Salam,
    Ratna

  5. Aku jd bener2 teringat sama cara didikan orang tua semasa kecil, keras memang, dan waktu kecil kita pasti belum mengerti dan menganggap kalo orang tua bener2 benci sama kita, namun semakin dewasa makin mengerti seberapa besar cinta orang tua yg ditunjukkan lewat didikan keras itu, dan diatas rasa sakit saat kita dipukul sebenarnya masih ada rasa pedih org tua yg jauh lebih besar krn mau tidak mau harus menghukum anak dengan keras.

  6. Masing-masing orangtua punya cara untuk memberi pelajaran kepada anak-anaknya. Semasa kecil kita berpikir hukuman dan pelajaran adalah suatu kejahatan, seiring bertambah usia kita sadar ada kebaikan di balik perlakuan keras mereka. Yang pasti bang Eka, selangkah lebih maju karena mendidik anak bang Eka tidak dengan cara-cara keras.

  7. Sepertinya cara didik sang Papa yang ‘ampun, pa… berikut bagaimana sang Mama memilih bersikap, menjadi paduan yang unik untuk seorang Dika kelak saat menjadi seorang Papa. Judulnya Cerita Tentang Papa, namun perenungan terdalam justru pada diri Dika. Wuiiih keren banget alurnya Bang Eka. Jangan di tahan Bang, biarkan terus berdinamika ya ….

  8. Hi tokoh aku, janganlah kau melakukan hal yang sama ke Papamu seperti bagaimana beliau memperlakukanmu dulu.
    kita tidak pernah tahu tujuan Papa dulu apa. luka mungkin akan terus terasa sampai dewasa, namun karakter yang terbentuk sekarang adalah karena peranan Papa sedikit banyaknya.

  9. Membaca cerita ini membuat saya makin rindu pada alm. Papa. He is the best father for us.
    Papa bukan laki laki sempurna tapi beliau selalu berupaya memberikan yang terbaik buat keluarga.
    Saya semakin iba dengan anak anak dalam cerita ini.

  10. Aku baca ini pas dialog nya dengan nada medan tau bang sambil membayangkan saat papa izam memeluk Anak2nya sambil minta maaf. Mungkin setiap orang tua memberikan hukuman ke Anak2nya beda2 yaa, ditunggu lanjutan ya ya bang

  11. Membaca ini aku jadi inget kenakalan waktu kecil. Kalau Dika dikurung Papa di kamar, aku dimasukan ke lemari terus dikunci. Sampe setua ini aja aku heran, itu hukuman koq lucu amat yaa dari orang tuaku, masukin leari cobaa. Sampe sekarang lemarinya masih ada hhehehe.

  12. Sang Papa rupanya karakternya keras dan disiplin.
    Untuk zaman now, sepertinya hukuman dikurung dalam kamar yang gelap memang cukup mengerikan karena memang tidak “manusiawi”.

  13. Hai aku, kamu gak sendiri. Papaku jga galak. Tapi aku sayang sekali. Masa kecilku juga penuh hukuman, tapi juga hadiah. Ini yg mendewasakanku sebagai sang pejuang di luar skrg.

  14. Jadi teringat kisah nyata seorang teman yang ayahnya juga sangat keras dalam mendidiknya. Kalau salah, hukumannya dikurung di kamar. Bahkan sampai soal jodoh, harus berjuang meluluhkan hati ayahnya.. sampai ada gencatan senjata segala.
    Ceritanya tentang Papa ini makin menarik aja, Bang.. dan bikin penasaran kelanjutannya…ditunggu…

  15. Abang…

    Cerita ini mengingatkanku pada salah satu drama Korea 😭

    Macam” cara mendidik orang tua, salah satunya dengan memberikan punishment kalau salah. Hampir semua bapak yang kutemui galaknya masyaAllah. Begitupun bapakku waktu kukecil.

    Semoga jadi pembelajaran untuk kita bagaimana kelak anak kita akan kita didik 🙂

  16. selalu dibikin penasaran ama kelanjutannya. pas dialog “Maafkan, papa. Papa harus melakukan hukuman kalau kalian bersalah, seberat apapun itu, kalian harus bertanggung jawab untuk kesalahan yang telah kalian perbuat. Kalau kalian takut, sedih atau marah, papa minta maaf.” ini ngena banget!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close
Back to top button
Close