Cerita Tentang Papa (5) : 3 temurun

CERMIN (Cerita Mini)
Cerita ini semata-mata hanya fiksi belaka

Cerita sebelumnya :
Cermin Tentang Papa (1) : PENGECUT
Cermin Tentang Papa (2) : TERBAIK TERBURUK
Cermin Tentang Papa (3) : KECIL KAU ENGGAK MAU MATI!
Cermin Tentang Papa (4) : “AMPUN, PA!”

(5)

Aku cuma bisa menunduk. Ujung kuku jari telunjukku sudah habis kugigiti. Pundakku sedikit bergetar. Dengkul kaki kananku tak henti-hentinya bergerak gelisah.

Di depanku mama menatapku selembut mungkin. Namun tetap saja jatuhya begitu tajam bagiku.

Kali ini kedua dengkulku yang tidak bisa berkompromi lagi untuk diam. Badanku mulai kutekukkan ke paha, pandangan mataku kupalingkan sejauh mungkin belakang.

Aku enggak sanggup lagi melihat dia yang kutahu mulai merengkuh kedua bahuku.

“Mulai kapan, Dika… mulai kapan… ?” Mama terhenti sebentar sedikit tercekat dan mulai bertanya lagi, “Dokter sudah cerita ke mama. Mama enggak papa kok. Abang cerita aja. Sejak kapan mama marah kalau abang cerita?”

Aku makin menggigil, tapi kali ini tambah tak menentu. Keinginan gila itu… suara sabar dan pasrah mama yang justru mengingatkanku akan kebencianku pada papa.

“Mam.. mm… mam.. mm … mama… Abang enggak kuat ma… dddokternya kasih juga enggak, ma? Abang mma.. mma… mau yang ddd…ddokter kasih, ma”

“Lihat mama, dika… lihat mama.” Mama memaksaku menengadah.

Aku pun menatap mama rapuh. Baru kali aku merasa secanggung ini di depan mama.

Mengingatkanku akan kecanggungan kami saat kembali ke rumah Opung dulu, karena dia yang sangat tak pantas dipanggil papa.

*****

Hari pertamaku kembali ke rumah opung, kurasa bukan hanya aku yang merasa canggung.

Padahal dulu, di rumah ini aku seperti anak raja yang sangat ditunggu oleh semua orang yang ada di rumah ini. Namun sekarang sudah beda. Lain sekali. Enggak satupun yang berusaha memelukku seperti dulu atau bergegas berebutan menggendongku.

Entah apa pembicaran antara mama dengan opung tadi malam. Aku sudah tidur, tapi bukan di bekas kamar Izam, kamar papa. Aku dan adikku, Yana, tidur di kamar lain yang kosong. Ada 3 kamar kosong di rumah itu yang memang di persiapkan untuk tamu.

Papa sebelas orang bersaudara. Dua saudara tiri dan sembilan saudara kandung. Dari sembilan orang saudara kandungnya, papa anak nomor dua, dari empat laki-laki dan lima orang anak perempuan. Dua orang abang laki-laki tirinya berada di Jakarta. Sebuah keluarga besar memang. Dari semua itu, aku cucu pertama opung dari istri keduanya, karena papalah yang duluan menikah.

Sebagai cucu pertama opung yang di Medan, tentu saja aku merasakan limpahan kasih sayang yang luar biasa dari opung. Adat dari suku kamilah yang membuat aku — sebagai cucu laki-laki pertamanya — mendapatkan perhatian yang luar biasa dan layak dibanggakan.

Setiap sore, sebelum dia pulang, aku dan adikkan sudah harus mandi dan rapih. Begitu dia tiba, kami berdua langsung dinaikkan ke kap mobil merah putih (begitu dia menyebutnya), dan membawa kami berkeliling kompleks perumahan.

Begitulah.

Opung juga cukup terpandang di daerahnya. Selain pernah menjabat sebagai Camat, opung juga dikenal sebagai salah satu pejuang yang pernah mendapatkan penghargaan dari pemerintah. Oleh sebab itu, namanya diabadikan menjadi salah satu nama jalan di kota kelahirannya.

Opung juga pendiri percetakan terbesar pertama yang ada di Sumatera Utara. Semua koran dan buku-buku yang diterbitkan di Medan sekitar tahun tujuh puluhan pun dicetak di percetakannya.

Dengan segala kemewahan yang opung punya, yang aku kagum adalah apa yang papa lakukan.

Papa sama sekali tidak pernah memanfaatkan fasilitas yang ada. Papa selalu menolak semua tawaran pekerjaan opung, termasuk memimpin percetakannya. Padahal sebagai anak laki-laki “pertamanya”, dia masih berhak untuk itu. Papa malah memilih jadi pekerja biasa dipercetakan itu, yang kerjaannya hanya sebatas operator alat cetak.

Aku pikir, papa sengaja untuk bekerja dari bawah dulu, baru pada akhirnya dia naik jabatan pelan-pelan. Ternyata dugaanku salah. Papa hanya bekerja 2 tahun saja di sana. Setelah itu papa membuka percetakan yang hampir sama, tapi dengan skala yang lebih kecil.

Papa yang aneh… mungkin itu tanggapan anak sekarang. Tapi itulah dia. Itulah bagian dari prinsip-prinsip yang dia terapkan pada kami.

Sampai pada akhirnya, akupun sempat akan punya usaha percetakan yang sama dengan opung dan papa.

Kami begitu sama. Apalagi sifatnya kami berdua.

Kalau kupikir-pikir memang banyak sekali kesamaan kami. Kebiasaannya yang bagi kami terlihat menimbulkan keribetan, acapkali menghasilkan bentakan bahkan hukuman pukulan ikat pinggang jika kami tidak mengerjakan atau mengikutinya.

Papa enggak bisa melihat kursi meja makan yang tidak didorong rapi kembali ke dalam, setelah makan. Aku juga begitu. Papa selalu menepuk-nepuk semua bantal tempat tidur dan kursi supaya menggelempung dan rapi. Aku juga.

Masih banyak contoh lain. Kami sama.

Papa enggak pernah protes tanpa data, dan itu aku.

Ya, mungkin karena aku anaknya, maka aku seperti dia. Namun bukankah banyak anak lain juga yang enggak sama dengan bapaknya.

Ya… Kenapa kami sama? Jangan ada yang tanya kenapa. Aku enggak mau disamakan dengan dia.

Tidak mau!

Karena canggung dan enggak tahu mau ngapain. Hari pertama di rumah opung kulewati seharian di kamar sama si adek. Bobby adikku yang nomor 3, masih berumur 4 tahun. Tantri adikku yang paling kecil tidur sama mama, dan aku yakin, mereka pun masih ada di kamarnya.

Namun dugaanku ternyata salah. Mama tiba-tiba masuk ke kamarku. Sambil menggendong adik perempuanku mama menuntun Bobby dengan tangan kiri. Tangan kanannya menyeret koper kami.

Wah mau kemana lagi ini pikirku.

“Bang, kita semua di sini ya, rame-rame di sini,”kata mama sambil menaruh Tantri di tempat tidur, kemudian meletakkan koper di sudut kamar di samping lemari kecil coklat, tempat tamu meletakkan pakaiannya.

“Pasti mama habis nangis lagi… dan aku yakin pasti karena habis bicara sama opung perempuan.” pikirku dalam hati.

Sejak Opung laki-laki meninggal, opung perempuan memang agak lain. Enggak seperti waktu ada opung laki-laki dulu. Enggak sebaik dulu. Kali ini, sejak saat kami datang, perbedaan itu semakin terasa.

*****

Setelah memberikan “obat” yang diberikan dokter, aku mulai merasa tenang. Kuputuskan untuk segera beristirahat di tempat tidur ini. Tempat tidur dengan kasur yang rasa dan aromanya masih senyaman 20 tahunan lalu.

Koper itu, teronggok di samping tempat tidur, setia.

Koper itu yang selalu bersama kami, digeret-geret mama ke sana kemari sampai pada akhirnya kami pun merasa terusir dari rumah besar opung dan memutuskan untuk tinggal di rumah petak.

Rumah petak. Benar-benar petak, ukuran 2 x 2 meter, tanpa kamar apalagi kamar mandi. Di rumah burung (julukan yang mama kasih untuk kamar eh rumah kami) di situlah kami berlima tinggal.

Berlima kami berusaha terbiasa untuk tidur, makan dan sekaligus menemani mama masak di ruang sepetak itu.

Kepalaku mendadak pusing kembali. Setiap mengenang masa lalu, dadaku sesak, kepalaku mau pecah saja rasanya.

Ahhhh… ini semua gara-gara dia!!! Laki-laki tidak bertanggung jawab itu.

Bersambung ke bagian (6)

*****

Cerita sebelumnya :
Cermin Tentang Papa (1) : PENGECUT
Cermin Tentang Papa (2) : TERBAIK TERBURUK
Cermin Tentang Papa (3) : KECIL KAU ENGGAK MAU MATI!
Cermin Tentang Papa (4) : “AMPUN, PA!”

Eka Siregar

Halo.. panggil Bang Eka aja ya.. pada dasarnya saya senang jalan-jalan, makan dan mengerjakan atau mencoba hal-hal baru. Nah, di sini saya coba bagi ke teman-teman apa-apa yang telah saya lihat, dengar, dan rasakan sendiri. Silahkan dibaca-baca ya..

26 Comments

  1. Biasanya anak perempuan yang lebih mirip dengan Papa-nya. Anak laki-laki cenderung ke Ibu-nya.

    Kangen sama Papa ya Bang?
    Ada yang mengatakan jika sifat dan karakter anak serupa dengan Papa, mereka selalu nggak akur.
    Karena seringnya berdebat konon dia adalah anak kesayangannya, katanya.

    Ada yang belum tuntas diceritakan, kenapa Mama menangis dan akhirnya keluar dari rumah?, apakah nanti diceritakan di chapter selanjutnya. Wah bikin penasaran dan jadi twist ending yang kueren.

    Jadi penasaran menunggu cerita selanjutnya.

  2. Widihhh…. Berasa masuk ke dalam cerita… sebagai boru batak, paham banget sama suasana ginian… Bener banget om, pahompu cowo pertama itu pasti disayang, tp aku jd penasaran kenapa tiba2 malah jadi ga dianggap…

  3. Baru baca sudah Part 5. Aku ini kenapa? Minum obat sakit apa? Sepertinya harus baca mundur 😁. Kenapa kalau di sumatra didikannya selalu keras, ada saja cerita pecutan ikat pinggang. Dari sinilah mungkin akhirnya orang medan tumbuh menjadi watak yg tegas.

  4. Entah mengapa setiap baca cerita yg bersambung ini, aku ikut merasakan gejolak di pikiran. Tentang si papa ini, aku ngerasa sosok papa ini banyak bagusnya dengan caranya, tp dibuat sebel juga..
    Sungguh penasaran dengan akhir dr cerita ini..

  5. Semakin Dika membenci Papa justru semakin kagum sebenarnya. Semakin Dika ingin menjauh justru semakin terasa papa ada di dekatnya. Dika menjadi personifikasi sang papa. Keren Bang Eka alur ceritanya… pembaca berasa ada di antara dika dan papanya.

  6. Opungnya yang pejuang itu namanya siapa nih Bang Eka? hihih aku harus baca dari awal dulu ya ceritanya nih biar nyambung. gpp deh sekarang baca bagian ini dulu habis ini aku baca dari awal. Perihal sakitnya juga nih aku gak tau, jadi makin penasaran sama ceritanya.

    Aku malah salut sama papanya loh mau berusaha sendiri gak mengandalkan warisan orangtua.

  7. Wahhh dika dan papa itu sama, tapi enggak mau disamakan. Hmmm dan akupun kagum sama sosok mama yang kuat dan tegar. Ujung episode ini bikin aku terenyuh, harus tinggal di rumah burung.

  8. Wow! Papa Dika menolak semua kemewahan itu dan merangkak dari bawah. Salute!
    Btw, jadi penasaran lebih jauh ada apa dengan papanya Dika? Kenapa sepertinya papa selalu menjadi deretan tertinggi yang mengisi pikirannya Dika.

  9. Setiap baca cerita abang yang ini, aku lngsng inget masa kecilku. Abang yang sekarang kuat banget ternyata karena dari kecil didik untuk kuat. Jangan nangis abang. Send u virtual hug

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close